Showing posts with label Jas Merah. Show all posts
Showing posts with label Jas Merah. Show all posts

Monday, October 24, 2016

Pangkalan Militer Nazi Di temukan


Pangkalan Militer Nazi Di Kutub Utara

Sebuah pangkalan militer rahasia milik Nazi di Kutub Utara telah ditemukan oleh para ilmuwan Rusia. Situs terletak di pulau Alexandra Land 1.000 km dari Kutub Utara. Pangnkalan ini dibangun pada tahun 1942, setahun setelah Adolf Hitler menyerang Rusia.

Tempat ini diberi kode kode “Schatzgraber” atau “Treasure Hunter” oleh Jerman dan terutama digunakan sebagai stasiun cuaca taktis.

Sebagaimana dilaporkan The Independent Minggu 23 Oktober 2016, Pangkalan tersebut itu ditinggalkan ketika para ilmuwan yang ditempatkan di sana teracuni oleh daging beruang kutub pada tahun 1944 dan harus diselamatkan oleh U-boat Jerman.

Peluru Berkarat Peninggalan Perang Dunia II

Setelah 72 tahun, di pangkalan tersebut masih terdapat lebih dari 500 objek, termasuk dokumen yang cukup terawatt.

Reruntuhan bunker, peluru berkarat dan peninggalan lainnya berasal dari Perang Dunia II juga ditemukan di situs dan banyak yang tetap dalam kondisi baik karena diawetkan dengan cuaca dingin.

Pulau ini sangat penting selama Perang Dunia II untuk menghasilkan laporan meterological untuk perencanaan gerakan pasukan, kapal selam dan kapal.

Nama yang diberikan untuk pangkalan telah menyebabkan beberapa orang percaya tempat ini mungkin memiliki misi rahasia lain dengan beberapa ahli berspekulasi bahwa kemungkinan pangkalan telah digunakan untuk mengejar peninggalan purbakala.

Alexandra Land adalah wilayah yang disengketakan selama beberapa tahun tetapi sekarang merupakan bagian dari Federasi Rusia.


Sunday, October 23, 2016

Mengenal R.E Martadinata Mantan Laksamana ALRI

Laksamana TNI (Anumerta) Raden Eddy Martadinata


Mungkin ketika kita traveling ke luar kota pernah melihat nama jalan dengan nama nama pahlawan, nah yang satu ini pasti pernah melihat atau pernah mendengar nama jalan RE Martadinata. Pasti ada yang sudah mengenal dengan Laksamana TNI ini atau ada juga yang belum, nah mari kita bahas bersama bio data dan sejarah dari RE Martadinata. 

Dari sederetan tokoh yang pernah menjabat Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), Laksamana TNI (Anumerta) Raden Eddy Martadinata adalah salah satunya.

Pria yang dilahirkan di Bandung, Jawa Barat, pada 29 Maret 1921 ini adalah putra pertama dari R Ruchijat Martadinata, seorang pegawai Departemen Peperangan Pemerintah Hindia Belanda (Department van Oorlog) dan Nyi R Soekaeni. 

Sebenarnya, oleh kakeknya dia diberi nama Muchammad Zuchdi. Namun, oleh orangtunya dia diberi nama Eddy. Tahun 1927, Eddy memasuki masa sekolah di Hollandsch lnlandsche School (HIS) Kertapati. Dia terdaftar dengan nama Eddy Martadinata.  

Saturday, October 17, 2015

Ditemukan Foto Kekejaman Tentara Belanda Eksekusi 6 Pejuang Indonesia

Bukti Foto Kekejama Belanda Di Masa Lalu

JAKARTA - Sebuah foto terbaru dirilis media Belanda, de Volkskrant, pada hari Jumat (16/10/2015) yang menunjukkan kekejaman tentara Belanda terhadap para pejuang Indonesia di masa lalu. Foto itu menunjukkan enam pejuang Indonesia dieksekusi di satu tempat oleh tentara Belanda.

Foto terbaru itu bagian dari total 179 foto dan slides yang sebelumnya tidak pernah dipublikasikan di media mana pun. Foto tersebut ditemukan di ruang penyimpan barang berharga di sebuah bangunan bekas bank di Gouda, kota di Belanda tengah. Bangunan itu kini menjadi gedung Museum Perlawanan di Provinsi Zuid-Holland.

Joost Lamboo yang bertanggung jawab atas foto-foto koleksi museum, memberikan pernyataan tentang foto tersebut.

”Semua foto ini langsung mengingatkan saya pada foto-foto eksekusi yang pernah diumumkan oleh harian de Volkskrant pada bulan Juli 2012. Pria-pria yang dieksekusi berdiri di pinggir parit yang dangkal. Foto-foto ini dibuat dari jarak yang sangat dekat dan itu luar biasa. Dua dari enam pria (Indonesia) itu sebenarnya gampang sekali diidentifikasi siapa mereka,” kata Lamboo.

Media Belanda itu melaporkan, di antara koleksi foto yang ada, terdapat juga foto desa yang dibakar habis, aksi pembersihan, dan interogasi terhadap orang-orang Indonesia yang ditelanjangi.

Ada pula slide beberapa pejuang Indonesia yang sudah dipenggal kepala mereka. Kendati demikian, ada slide orang Indonesia yang menunjukkan sebuah piagam. Piagam tersebut menjadi bukti kesetiaan pemegang piagam kepada pemerintah Kolonial Belanda. Piagam itu diduga pemberian Kerajaan Belanda usai Perang Aceh (1873-1914).

Lamboo mengaku menemukan foto itu secara tidak sengaja. Di sebuah ruang dengan pintu besi ditemukan beberapa laci berisi barang-barang yang mengingatkan orang terhadap Perang Dunia II. Contohnya, medali Nazi, emblem SS yang dipakai untuk dibalutken pada lengan atas. Selain itu ada juga bintang Yahudi dan barang-barang warisan sekutu.

Sindonews.com

Wednesday, October 7, 2015

Kisah Tentara Jepang Sembunyi di Hutan Selama 30 Tahun

Kisah seorang "Teruo Nakamura, tentara jepang yang bersembunyi di hutan Kepulauan Morotai, Kepulauan Maluku Utara Indonesia selama 30 tahun.


Nakamura saat ditangkap tentara TNI AU (foto:Istimewa)
CERITA perang selalu bicara tentang penderitaan dan kepahlawanan. Cerita Teruo Nakamura, tentara Jepang yang bertugas di Kepulauan Morotai, Kepulauan Maluku Utara, Indonesia, mungkin masuk dalam keduanya. 


Awal Mula Nakamura Jadi Tentara

Bagaimana kisah tentara Jepang itu? Mari kita akan mengulasnya. Kisah kepahlawanan itu dimulai saat masa pendudukan Jepang di Indonesia, yang disusul dengan menyerahnya Pemerintah Kolonial Hindia Belanda kepada Jepang, pada 8 Maret 1942. 

Nakamaru yang lahir di Taiwan (saat itu Taiwan merupakan wilayah jajahan Jepang), pada 8 Oktober 1919, terkena wajib militer dan menjadi bagian dari Unit Sukarela Takasago Angkatan Darat Kekaisaran Jepang tahun 1943. Dia ditempatkan di Pulau Morotai, Indonesia, tahun 1944. 


Penyerangan Sekutu ke Morotai dan Hilangnya Nakamura

Tepatnya bulan September tahun 1944, pasukan sekutu yang terdiri dari tentara Amerika Serikat dan Australia menyerang Morotai.

Serangan sekutu itu menghancurkan kekuatan Jepang di Pulau Morotai. Dalam serangan itu, Nakamaru dinyatakan tewas oleh Kekaisaran Jepang. Kabar kematiannya diumumkan pada bulan Maret 1945, karena jejaknya tak pernah ditemukan. 

Bahkan setelah beberapa tentara dari kelompoknya ditemukan di hutan tahun 1950, Nakamaru masih tetap tidak diketahui rimbanya. Keberadaannya baru terungkap setelah seorang warga Morotai yang sedang berburu babi melihatnya di hutan. 


Saat Nakamura di Temukan Warga Lokal

Melalui warga itu jugalah diketahui bagai mana kehidupan Nakamaru selama di hutan. Dia dikabarkan tinggal di dalam gubuk seluas 2×2 meter yang terbuat dari kayu, dan beratap rumbia. Di gubuk itu ditemukan tumpukan kayu yang sudah melengkung. 

Kayu itu melengkung karena dijadikan tempat tidur, dan rencananya akan digunakan membakar dirinya sendiri, jika suatu saat dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa di dalam hutan. Di langit-langit gubuknya, ditemukan satu buah senjata bekas perang. 

Senjata itu sangat terawat, dan masih bisa digunakan. Di lantai gubuknya, dia menyimpan 14 peluru aktif. Di dalam gubuk itu juga ditemukan satu botol besar yang berisi minyak babi untuk merawat senjata, dan bumbu makanan. 

Sedangkan di kompleks gubuk itu, Nakamura menanam berbagai macam tanaman umbi-umbian, seperti ubi dan singkong. Dia juga membangun pagar kayu untuk melindungi gubug dan pekarangannya dari binatang buas, dan pendatang dari luar. 


Kronologis saat Nakamura di tangkap tim gabungan

Nakamura berhasil dibujuk keluar setelah tim gabungan yang terdiri dari tentara Indonesia, dan pihak Kedutaan Jepang menyanyikan lagu kebangsaan Jepang, Kimigayo, pada 18 Desember 1974. Saat mendengar itu, Nakamaru berdiri tegap hormat. 

Pada saat itulah, Nakamura disergap tim dan ditodongkan senjata. Tanpa perlawanan, tentara Jepang terakhir di Indonesia itu menyerah. Dia lalu digiring ke Rumah Sakit (RS) Pelni, Jakarta, untuk menjalani perawatan. 

Setelah dinyatakan sehat, Nakamura kembali ke Taiwan, tanpa singgah terlebih dahulu ke Jepang. Dia meninggal karena menderita kanker paru-paru lima tahun kemudian, di Taiwan, 15 Juni 1979.

Sindonews.com

Monday, October 5, 2015

Operasi Penyelamatan Rahasia Bung Karno Oleh Korps Intai Para Amfibi "KIPAM"


“Harto, jane aku iki arep kok apa’ke? Aku iki presidenmu” Ungkap Soekarno pada Soeharto di suatu waktu dalam bahasa Jawa. Kurang lebih artinya, ‘Harto, sebenarnya aku ini akan kamu apakan? Aku ini presidenmu’.

Sedikitnya itu pengungkapan Soekarno pada Soeharto yang termaktub di autobiografi Soeharto, pasca-penjelasannya soal peristiwa G30S (Gerakan 30 September) 1965 di mana sejumlah perwira tinggi TNI AD gugur ditolak parlemen, sekaligus pasca-keluarnya Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) 1966.

Masa-masa akhir Soekarno setelah dua peristiwa itu begitu miris. Sang proklamator, sang penyambung lidah rakyat, Putra Sang Fajar yang mulai meredup, di mana Soekarno sejak Mei 1967 tak lagi diizinkan memakai gelar Kepala Negara atau status Presiden.

Di kala itu, Soekarno juga tengah intensif jadi obyek interogasi petugas Teperpu dan sudah “terasing” di Wisma Yaso (kini Museum Satria Mandala, Jakarta). Mendengar Bung Karno bertanya dengan miris seperti itu, segera Soeharto menurunkan perintah untuk tak lagi menginterogasi Soekarno.

Di masa pengasingannya itu pun, Soekarno tak diperbolehkan dijenguk siapapun. Hanya ada salah satu putrinya, Rahmawati dan dokter Kepresidenan Prof. Dr. Mahar Mardjono di Wisma Yaso yang juga mulai suram, mulai berantakan halamannya lantaran tukang kebun pun dilarang lagi untuk datang.

Operasi Rahasia Penyelamatan Bung Karno

Ketika itu, Soekarno bisa dikatakan berstatus tahanan rumah yang ditempatkan di Wisma Yaso (kini Museum Satria Mandala, Jakarta, bangunan ini ada di dalam area museum ini). Semua orang tahu, Soekarno ditahan, tetapi tidak banyak yang tahu nyawa proklamator tersebut diujung tanduk.



Siapa lagi loyalis militer Bung karno kalau bukan KKO ALRI yang hendak menculik & menyelamatkan proklamator tersebut dari rumah tahanan Wisma Yaso.

Dikisahkan suatu malam, satu tim Korps Intai Para Amfibi (Kipam) ALRI berhasil menyusup ke dalam Wisma Yaso. Batalyon Intai Amfibiatau disingkat YonTaifib adalah satuan elit dalam Korps Marinir seperti halnya Kopassus dalam jajaran TNI Angkatan Darat.

Dahulunya satuan ini dikenal dengan nama KIPAM (Komando Intai Para Amfibi). Untuk menjadi anggota YonTaifib, calon diseleksi dari prajurit marinir yang memenuhi persyaratan mental, fisik, kesehatan, dan telah berdinas aktif minimal dua tahun.

Salah satu program latihan bagi siswa pendidikan intai amfibi, adalah berenang dalam kondisi tangan dan kaki terikat, sejauh 3 km.

Dari satuan ini kemudian direkrut lagi prajurit terbaik untuk masuk kedalam Detasemen Jala Mengkara, pasukan elitnya TNI Angkatan Laut. Pada masa kini, Kipam sekarang dikenal dengan nama Taifib ( Intai Amfibi).


Kala itu, Kipam ALRI bisa melewati penjagaan ketat oleh Kostrad dan RPKAD, hingga masuk ke ruang di mana Soekarno terbaring tidak berdaya.

Seorang perwira pertama Kipam membangunkan sang Proklamator, kemudian mengajak bercakap sejenak sambil mengutarakan rencana mereka untuk membawa Soekarno keluar dari Wisma Yaso.

Tetapi rencana tidak berjalan mulus, Soekarno menolak untuk diselamatkan. Soekarno malah memerintahkan si perwira pertama untuk membawa timnya keluar dari Wisma Yaso. Tidak banyak kata yang terucap, Soekarno tidak mau lagi diajak berbicara. Alhasil, Kipam pulang dengan tangan hampa.

Operasi penyelamatan secara rahasia terhadap sang proklamator tersebut pun tidak banyak diketahui orang, kecuali hanya pada kalangan tertentu di ALRI dan KKO.

Padahal, jika saja mau, ALRI bisa jadi yang paling terdepan bersama Soekarno. Belum lagi ditambahkan dengan elemen-elemen nasional lainnya yang masih loyal dengan Bung Karno.

Soeharto dan Soekarno


Sebelum Sukarno Terbaring di Wisma Yaso

Sebelum di Wisma Yaso, Soekarno sudah mulai terasing di Istana Bogor sejak menandatangani Supersemar 1966. Dalam kenangan salah satu wartawan istana dari Harian Pelopor Baru, Toeti Kakialatu dalam buku ’34 Wartawan Istana Bicara Tentang Pak Harto’, dijelaskan saat itu wartawan sudah tak boleh lagi bertemu Soekarno.

“Pintu Istana Merdeka dan Istana Bogor tertutup bagi semua wartawan. Sementara itu demonstrasi gencar terjadi menuntutTritura (Tiga Tuntutan Rakyat: Bubarkan PKI, Bubarkan Kabinet Dwikora dan Turunkan harga-harga makanan),” tulis Toeti.

“Beliau juga tak diperbolehkan berdiam di Istana Bogor, melainkan di kediaman pribadi di Jalan Batu Tulis, Bogor yang diberi nama ‘Hing Puri Bima Sakti’. Beliau nampak kesepian. Hanya beberapa petugas Teperpu yang selalu ingin mengorek keterlibatan Bung Karno atas peristiwa kudeta 1965,” tambahnya.

Lantaran terus-menerus diinterogasi dan tanpa teman berarti di sisinya, kesehatan Bung Karno pun menurun. Rahmawati kemudian menulis surat untuk Soeharto agar Bung Karno dipindah lagi ke Jakarta. Itulah akhirnya Bung Karno mendiami Wisma Yaso hingga akhir hayatnya.

Nasoetion, Soekarno dan Soeharto
Sebelum munculnya Supersemar

Padahal sebelum munculnya Supersemar yang mengharuskan Soekarno menyerahkan mandat pada Soeharto, setidaknya Soekarno masih bisa menikmati hari-hari luang. Pasca-Soeharto jadi Pejabat Presiden, Toeti mengaku bersama beberapa rekan wartawan lainnya masih sempat ‘ngemong’ Bung Karno.

“Kami keliling kota dengan bus mini ke beberapa toko anti, ke Stadion Senayan, melihat dari jauh pembagunan Gedung MPR/DPR. Saat itu juga Bung Karno sangat ingin makan sate di Priok. Tapi tak diizinkan bagian keamanan,” imbuh Toeti.

“Acara lain adalah nonton film di studio kecil yang waktu itu letaknya di bagian belakang Istana Negara. Biasanya kami nonton film Jepang. Bung Karno senang sekali nonton ‘Zato Ichi’, cerita tentang samurai pemberani bermata satu,” lanjutnya mengenang Bung Karno.

Soekarno Sungkem Kepada Ibundanya


Dalam kenangannya, Soekarno memang dikenal sosok yang teguh memegang prinsip yang dipercayainya, kendati rakyat sudah tak lagi menghendaki. Seperti konsep Nasakom(Nasionalisme, Agama dan Komunisme) contohnya.

Peristiwa G30S tak ayal membuahkan gejolak besar dalam politik Indonesia. Soeharto sedianya sudah lebih dari 10 kali membujuk Soekarno untuk memenuhi Tritura yang di antaraya, membubarkan PKI. Tapi itu artinya menghapus pula konsep Nasakom yang dipegangnya selama rezim demokrasi terpimpin.

“Dudu sanak, dudu kadang. Nek mati melu kelangan,” begitu jawab Soekarno yang menyiratkan keengganan membubarkan PKI, di mana kira-kira artinya, bukan saudara bukan kawan, tapi kalau mati turut kehilangan.

Sayang, pilihannya yang tak menghendaki pemenuhan Tritura membuatnya harus jatuh dari segala tongkat komando yang pernah dikuasainya. Soekarno seolah harus menghadapi masa senjanya dengan kesendirian dan kondisi yang suram di Wisma Yaso.

Kondisi kesehatannya yang kian memburuk mengharuskan Soekarno dirawat di Rumah Sakit Gatot Subroto. Dunia internasional tak alpa pula mengikuti kondisi sosok yang pernah sangat diperhitungkan blok barat dan timur itu.

Soekarno Ketika Terbaring Sakit

“Berita tentang parahnya penyakit Bung Karno menjadi gosip santer. Juga beredarlah foto dari ‘Associated Press’ di media-media barat, Bung Karno tengah berbaring tak berdaya dengan wajah sembab, sedang dijaga putrinya, Rahmawati,” sambung Toeti lagi.

Tapi tak lama kemudian di Paviliun Darmawan RS Gatot Subroto, Soekarno yang lahir di Surabaya pada 6 Juni 1910 dan sejak kecil selalu ingin jadi penakluk, akhirnya ditaklukkan takdir. Maut menjemputnya pada 21 Juli 1970.

Sempat beredar soal isu keinginan Bung Karno sendiri yang ingin dimakamkan di Batu Tulis, Bogor.

Tapi dikatakan pihak keluarga juga saling berbeda pendapat soal di mana Soekarno akan dikebumikan. Namun Soeharto turut memutuskan bahwa Soekarno hendaknya dimakamkan dekat makam ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai di Blitar, Jawa Timur.

Sekalipun demikian, situasinya saat itu mungkin sulit dipahami, Soekarno lebih memilih bangsanya aman dan tenang. Mungkin bisa dikutip dari nasehat Soekarno kepada anaknya:

“Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekali pun, ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng, hanyalah kekuasaan rakyat dan di atas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.”

Para pemimpin di masa sekarang hendaknya mau bercermin dan mengambil keteladanan seorang Soekarno, sang proklamator. Sikap seperti Soekarno bisa jadi cermin dari sikap para orangtua di masa lalu, mengingat pada masa itu, walau seorang menteri pun, tak ada yang hidupnya kaya atau pun hidup bermewah-mewah.

Banyak diantaranya tak mau fasilitas rumah dari negara dan malah memilih untuk hidup di rumah kontrakan, makan seadanya, ada yang bermasalah dengan WC rumahnya yang mampet, bahkan ada yang tak mampu membeli kain kafan untuk anaknya yang meninggal. Padahal mereka adalah seorang Menteri Negara yang mengurusi seganap rakyatnya, rakyat Indonesia, dari Sabang hingga Merauke.

Sumber: viva.co.id

Di manakah Soeharto Ketika Para Jendral Dibunuh Pada 30 September 1965

Presiden RI kedua HM Soeharto 

Peristiwa pembunuhan jenderal TNI AD 30 September 1965 masih menjadi misteri. Sejarah yang disusun pemerintahan Orde Baru, menyebutkan Gerakan 30 September (G30S) digerakkan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Namun, pascareformasi, informasi seputar peristiwa pembunuhan jenderal di Lubang Buaya itu mulai bermunculan.

Sejarah pembunuhan Letnan Jenderal Akhmad Yani; Mayor Jenderal Suprapto; Mayor Jenderal M.T. Haryono; Mayor Jenderal S. Parman; Brigadir Jenderal Panjaitan; Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomihardjo dan Kapten Pierre Tendean,

semuanya  Lepas dari berbagai versi sejarah tersebut, peristiwa G30S itu menjadi tonggak sejarah baru terbentuknya pemerintahan orde baru di bawah pimpinan Mayjen Soeharto. 

Tahun 1965, merupakan awal Soeharto menapaki puncak kekuasaan. Ketika itu dia masih menjabat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad).

Soeharto berperan besar mengatasi kekacauan tahun 1965. Soeharto baru bergerak menumpas PKI pada tanggal 1 Oktober 1965. Lantas di mana Soeharto saat malam 30 September 1965 itu? 

"Tanggal 30 September 1965. Kira-kira pukul 21.00 WIB saya bersama istri saya (Siti Hartinah) berada di Rumah Sakit Gatot Soebroto," kata Soeharto seperti dikutip dalam buku otobiografi Soeharto; Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya. 

Soeharto bersama istri sedang menengok putranya, Hutomo Mandala Putra (Tomy Soeharto) yang ketika itu berumur empat tahun. "Tomy dirawat di sana karena tersiram air sup yang panas. Agak lama juga kami berada di sana. Maklumlah, menjaga anak yang menjadi kesayangan semua," tutur Soeharto. 

Barulah, pada pukul 00.15 WIB malam, Soeharto disuruh ibu Tien pulang ke rumahnya di Jalan Agus Salim. "karena ingat kepada Mamik, anak perempuan kami yang bungsu yang baru setahun umurnya. Saya pun meninggalkan Tomy, dan ibunya tetap menunggunya di Rumah Sakit," kata dia.

Presiden RI kedua itu, mengaku langsung berbaring dan tidur di rumahnya dan belum mengetahui peristiwa penculikan dan pembunuhan para jenderal tersebut. "Saya bisa cepat tidur. Tapi, kira-kira pukul 04.30 WIB tanggal 1 Oktober, saya kedatangan cameraman TVRI, Hamid. Ia baru selesai shooting film. 

Ia memberi tahu, bahwa ia mendengar tembakan di beberapa tempat," katanya. Mendengar kabar itu, Soeharto berpikir panjang. 

Tepat pukul 05.00 WIB datang anak buahnya, Broto Kusmardjo menyampaikan kabar mengenai penculikan perwira tinggi angkatan darat. Pukul 06.00 WIB, Soeharto bergegas merapikan pakaian, loreng lengkap, tapi belum mengenakan pistol, pet, dan sepatu. "Saya ingat apa yang harus saya perbuat dalam keadaan seperti ini. Pertama-tama saya harus tenang. 

Saya ingat dengan seketika, refleks dan ingat pepatah jawa, aja kagetan, aja gumunan, aja dumeh, saya langsung kumpulkan semua informasi," ujar dia. 

Sumber: rimanews

Saturday, October 3, 2015

Bung Karno Ungkap Bagaimana Cara Membunuh Dia

Bung Karno saat naik pesawat (VIVA.co.id / Dody Handoko)
Nama-nama besar seperti Gajah Mada, para Wali, Siliwangi, Pangeran Diponegoro, Pattimura, Bung Karno hingga Jenderal Sudirman  dianggap memiliki kesaktian.
Bukan hanya itu, hingga saat ini pun, di sejumlah daerah, masyarakat setempat memiliki legenda-legenda tentang sosok sakti di daerahnya.

Benarkah Bung Karno juga merupakan manusia “sakti?" Dengan sejarah sedikitnya tujuh kali luput, lolos, dan terhindar dari kematian akibat ancaman fisik secara langsung, menjadi hal yang jamak jika sebagian rakyat Indonesia menganggap Bung Karno adalah manusia dengan tingkat kesaktian tinggi.

Dalam buku Total Bung Karno karya Roso Daras diceritakan, sebuah perjalanan di Makassar, Bung Karno diserbu gerombolan separatis. Di perguruan Cikini, dia dilempar granat. Di Cisalak dia dicegat dan ditembaki. Di Istana, dia diserang menggunakan pesawat tempur  oleh simpatisan PRRI/Permesta.
Bahkan ketika dia tengah salat Idul Adha, seseorang yang ditengarai dari anasir DI/TII menumpahkan serentetan tembakan dari jarak enam saf (barisan salat) saja.

Bung Karno tetap selamat, tetap sehat, dan tidak gentar. Dia terus saja menjalankan tugas kepresidenan dengan segala konsekuensinya. Dalam salah satu pernyataannya di biografi Soekarno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia  yang ditulis Cindy Adams, berkomentar tentang usaha-usaha pembunuhan yang dilakukan terhadapnya, Bung Karno tidak mengaku memiliki kesaktian tertentu.

“Mati-hidup adalah kehendak Tuhan. Manusia mencoba membunuh, kalau Tuhan belum berkehendak saya mati, maka saya belum akan mati,” kata Bung Karno ketika itu.

Dengan kepemimpinannya yang tegas, berani “menentang” mengutuk politik Amerika Serikat, dengan keberaniannya keluar dari PBB dan membentuk Conefo, dengan penggalangan jaringan yang begitu kokoh dengan negara-negara besar di Asia maupun Afrika, Bung Karno tentu saja sangat ditakuti Amerika Serikat sebagai motor bangkitnya bangsa-bangsa di dunia untuk menumpas praktik-praktik imperialisme.

Untuk membunuh Soekarno dari luar terbukti telah gagal, maka gerakan intelijen menusuk dari dalam pun disusun, hingga lahirnya peristiwa Gestok yang benar-benar berujung pada jatuhnya Bung Karno sebagai kepala pemerintahan dan kepala negara Republik Indonesia.
Tidak berhenti sampai di sini, upaya membunuh secara fisik pun dilakukan dari dalam.

Bung Karno, dalam penuturan kepada Cindy Adams, pernah membuat pernyataan yang mencengangkan. “Untuk membunuh saya adalah mudah, jauhkan saja saya dari rakyat, saya akan mati perlahan-lahan,” kata dia waktu itu.

Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto dan atas dukungan Amerika Serikat (dan kroninya), melakukan upaya mengisolasi terhadap Bung Karno dengan cara diasingkan di Istana dan wisma Yaso. Seperti yang telah disebutkan oleh Bung Karno sendiri.

Hingga Mei 1967, Bung Karno seperti tahanan rumah. Meski masih berstatus Presiden, tetapi ia terpenjara di Istana dan wisma Yaso. Tidak boleh keluar tanpa kawalan tentara di kubu Soeharto.

Usai ia dilengserkan oleh sidang istimewa MPRS, kemudian diasingkan di Bogor, kemudian disekap di Wisma Yaso, Jalan Gatot Subroto. Ia benar-benar menjadi pesakitan. Yang paling menyakitkan adalah karena dia benar-benar dijauhkan dari rakyat. Rakyat yang menjadi “nyawa”-nya selama ini sampai Bung Karno wafat. 
Sumber: VIVA.co.id

Thursday, September 10, 2015

Hari-Hari Terakhir Presiden Soekarno Di Istana Negara

Soekarno Bersama Istri Dan Ke Dua Anaknya
SEBAGAI Presiden dan proklamator kemerdekaan Indonesia, sudah selayaknya jika Bung Karno mendapatkan pelayanan terbaik di hari-hari terakhir masa jabatannya. Namun apa yang terjadi sangat menyesakkan.

Fasilitas untuk Presiden Soekarno dikurangi. Pengawalan terhadapnya hanya dilakukan oleh CPM. Presiden juga dilarang menggunakan helikopter yang biasa digunakannya untuk bolak-balik ke Jakarta-Bogor.

Presiden hanya boleh menggunakan mobil dalam bepergian. Bahkan, permohonan dokter kepresidenan untuk menyediakan persediaan obat-obatan untuk penyakit ginjal Presiden Soekarno yang telah menipis tidak dipedulikan.

Akibat yang ditimbulkan dari kurangnya obat-obatan itu adalah, wajah Bung Karno menjadi bengkak dari hari ke hari. Setelah operasi ginjal di Wina, Bung Karno hidup dengan satu ginjal yang tidak sempurna.

Tidak hanya itu, Soekarno yang masih menjabat sebagai Presiden dan Panglima Tertinggi juga diperlakukan sebagai masyarakat biasa. Seperti yang disaksikan sendiri oleh Suwarto, anggota Detasemen Pengawal.

Saat itu, anggota Detasemen Kawal Pribadi (DKP) yang terdiri dari polisi sedang mengawal kepergian Presiden Soekarno ke Istana Bogor. Sudah menjadi aturan, ketika seorang Presiden turun dari mobil dibukakan pintunya.

Tetapi saat pintu mobil yang ditumpangi Presiden Soekarno akan dibukakan oleh anggota DKP, seorang Perwira Satgas Pomad membentaknya dengan kasar seraya mengatakan, "Biar dia buka sendiri, kamu kultus."

Di Istana Merdeka, jatah makan Presiden Soekarno bahkan ikut-ikutan dikurangi. Pernah suatu pagi, Soekarno merasa sangat lapar. Sudah menjadi kebiasaan, setiap pagi Presiden Soekarno sarapan dengan roti bakar.

Dia lalu memanggil pelayan istana, dan meminta dibuatkan roti bakar. Tetapi pelayan itu berkata bahwa di Istana Merdeka, "Tidak ada roti." Lalu Bung Karno berkata, "Kalau tidak ada roti, saya minta pisang saja."

Namun pelayan itu kembali menjawab, "Itu pun tidak ada." Hal ini kontan membuat Soekarno sangat kecewa. Karena merasa sangat lapar, Presiden Soekarno kembali berkata, "Nasi dengan kecap saja saya mau."

Tetapi, untuk yang kesekian kalinya sang pelayan menjawab, "Nasinya tidak ada." Presiden Soekarno lalu terdiam dan bergegas pergi ke Istana Bogor menemui Ibu Hartini, dan meminta dibuatkan sarapan pagi.

Di luar istana, aktivitas Presiden Soekarno juga selalu dimata-matai oleh intelijen Kodim. Seperti yang terjadi saat kunjungannya ke daerah Gadog, Ciawi, Bogor. Saat itu, Soekarno ingin membesuk Kolonel CPM Sunario.


Saat kunjungannya itu, Presiden Soekarno menyempatkan diri melihat aktivitas para petani di perkebunan rakyat. Alangkah kagetnya Soekarno, saat mengetahui para petani perkebunan terlihat sangat ketakutan.

Ketika Soekarno ingin menemui mereka dan menanyakan apa yang sedang terjadi, mereka menutup pintu dan rumah mereka. Sebagian lagi bahkan bersembunyi. Soekarno lalu menanyakan kepada Sunario.

Saat mendengar keterangan Sunario, Presiden Soekarno akhirnya tahu. Sebelum kedatangannya, masyarakat di perkebunan rakyat telah ditakut-takuti dengan cerita menyeramkan jika mereka berani menemui Soekarno.

Salah satu cerita yang tersiar, terjadi pada malam hari, saat Presiden Soekarno makan sate kambing di kawasan Ciawi. Pagi harinya, tukang sate itu diangkut tentara dan dibawa ke Kodim untuk diinterogasi.

Cerita tukang sate ini juga dialami oleh Ibu Supeni, Duta Besar Keliling Republik Indonesia. Saat itu, Supeni dan suaminya Ahmad Natakusuma sedang berada di Cipayung, Bogor, dan bertemu dengan Soekarno.

Soekarno saat itu naik mobil Jeep bersama Ibu Hartini. Mereka lalu pergi bersama ke pemandian Cimelati, Cigombong. Saat melihat Soekarno, rakyat langsung mengerubutinya. Di antara mereka ada seorang tentara.

Dengan menggunakan seragam lengkap, tentara itu bersujud di bawah kaki Soekarno. Hal ini disaksikan seluruh rakyat yang ada saat itu. Tanpa menjelaskan apa-apa, Soekarno hanya bilang, "Sudah! Sudah!"

Beberapa hari sejak peristiwa itu, Ibu Supeni didatangi tentara yang langsung menginterogasinya. Tentara itu menanyakan siapa orang yang bersujud di bawah kaki Soekarno saat itu? Dan dijawab, "Tidak kenal!"

Tidak percaya keterangan Supeni, tentara yang melakukan interogasi melanjutkan, "Masa Ibu tidak kenal? Dia kan seorang kolonel?" Hingga kini, siapa tentara yang bersujud di kaki Soekarno itu masih misterius.

Setelah mengalami berbagai kepedihan itu, Presiden Soekarno akhirnya meninggalkan Istana Merdeka. Sebelum 17 Agustus 1967, Presiden Soekarno dan keluarganya diminta harus sudah angkat kaki dari istana.

Peristiwa keluarnya Presiden Soekarno dan keluarganya dari Istana Merdeka, disaksikan secara langsung oleh Ajun Inspektur Polisi I Sogol Djauhari Abdul Muchid, anggota DKP yang setia terhadap Soekarno.

Dalam kesaksiannya, Sogol menceritakan, surat perintah yang meminta Presiden Soekarno angkat kaki dari Istana Merdeka datang dari Jenderal Soeharto yang diberikan kepadanya, melalui Komandan DKP Mangil.

Kepada Sogol, Komandan DKP minta Presiden Soekarno dan anggota keluarganya tinggal di Guest House, Jalan Iskandarsyah, Kebayoran Baru. Tetapi Soekarno tidak mau tinggal di tempat yang dijaga CPM itu.

Para sahabatnya yang merasa prihatin sempat menawarkan anak-anak Soekarno tinggal di rumah mereka. Namun Soekarno menolaknya, dan meminta anak-anaknya tinggal di rumah ibu mereka Fatmawati.

Sebelum mereka meninggalkan istana, Presiden Soekarno juga meminta anak-anaknya agar tidak ada yang membawa barang-barang berharga di istana, kecuali buku pelajaran, perhiasan pribadi, dan pakaian pribadi.

Permintaan Soekarno ini membuat anaknya yang pertama Guntur sakit hati. Sebab dia sudah menggulung kabel antena televisi dan siap membawa televisi itu, tetapi akhirnya ditinggalkan di Istana Merdeka.

Bung Karno sudah meninggalkan istana sebelum 16 Agustus 1967. Dia pergi dengan hanya menggunakan kaus oblong cap Cabe, dan celana piyama warna krem. Bayu piyamanya disampirkan di pundaknya.

Dengan memakai sandal cap Bata yang sudah usang, Soekarno keluar dari istana sambil menenteng koran yang digulung agak besar, berisi bendera pusaka sang saka merah putih pada tangan kanannya.

Itulah barang-barang milik Presiden Soekarno yang dibawanya pergi dari dalam istana. Sementara barang berharga lainnya, seperti logam mulia, batu mulia, dan uang dolar Amerika Serikat ditinggalkannya.

Di beranda istana, tampak mobil Volkswagen kodok milik pribadi Bung Karno sudah menunggu. Dia masuk dan duduk di belakang mobil, lalu pergi meninggalkan Istana Merdeka dan tidak pernah kembali lagi.

Itulah hari-hari terakhir Presiden Soekarno di Istana Negara. Selanjutnya Soekarno tinggal di Wisma Yaso. Saat itu, Soekarno masih menjabat sebagai Presiden, tetapi wewenangnya sebagai Presiden telah dicopot.

Foto-foto dirinya juga telah diturunkan dari semua kantor pemerintahan dan tempat-tempat umum. Bahkan, Presiden Soekarno tidak boleh menyebut dirinya lagi sebagai Presiden dan Panglima Tertinggi.

Selama itu, roda pemerintahan dan jabatan Panglima Besar Angkatan Darat diambil alih oleh Jenderal Soeharto yang telah diangkat menjadi penjabat Presiden. Soekarno benar-benar dibuat tidak berdaya.

Setahun kemudian, Soekarno diturunkan menjadi Presiden Indonesia dan Soeharto diangkat sebagai Presiden. Setelah tidak lagi menjabat Presiden, penderitaan Soekarno semakin bertambah parah saja.

Berbulan-bulan lamanya, Bung Karno didatangi anggota Kopkamtib Soeharto dan diinterogasi mengenai apa yang telah terungkap selama interogasi dan proses Mahlibub. Hal itu membuat Soekarno depresi.

Anak-anaknya tidak ada yang boleh menemuinya. Soekarno hidup seorang diri bagaikan seorang pesakitan. Tabiat ringan hati dan masa lalunya telah hilang. Sering kali, Soekarno menangis seorang diri.

Saat tengah sendiri itu, Soekarno kadang melamun masa-masanya saat masih menjadi Presiden, di Istana Merdeka. Menurutnya, masa-masa itu adalah masa-masa yang sangat tidak menyenangkan hatinya.

Menurutnya, apa yang selama ini dilihat orang bahwa hidup Soekarno sangat bahagia adalah salah. Jauh di dalam hatinya, dia merasa sangat kesepian dan menderita. Namun, semua itu tidak diperlihatkannya.

Demikian riwayat proklamator kemerdekaan Indonesia di masa-masa akhir jabatannya sebagai Presiden berlangsung sangat tragis. Soekarno dicampakkan, terasing dari masyarakat yang diperjuangkannya.

Sumber tulisan
H Maulwi Saelan, Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66, Visi Media, Cetakan Ketiga 2008.
Lambert J Giebels, Pembantaian yang Ditutup-tutupi, Peristiwa Fatal di Sekitar Kejatuhan Bung Karno, Grasindo, Jakarta 2005.
Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Yayasan Bung Karno-Media Pressindo, Edisi Revisi, Cetakan Kedua 2011.

SindoNews.com

Wednesday, September 9, 2015

Bung Karno Pernah Paksa Dua Presiden AS Sambut Kedatangannya di Amerika

Bung Karno dan Eisenhower
Bung Karno pernah membuat gempar publik Amerika Serikat pada era Presiden Eisenhower. Ceritanya berawal saat kunjungan Soekarno ke Amerika pada tahun 1960. 

Ketika itu, Soekarno merasa tersinggung. Sebab, tak seperti layaknya pemimpin negara lain, kedatangan Soekarno tak dijemput dan disambut oleh Presiden Eisenhower.

Di buku "Total Soekarno", karya Roso Daras dikisahkan, kemarahan Bung Karno memuncak ketika dia merasa dibiarkan menunggu berjam-jam oleh Eisenhower di Gedung Putih.

"Aku bicara pada protokol apakah aku harus menunggu lebih lama lagi? Bila demikian, aku akan pergi sekarang juga. Lalu orang itu pucat dan memohon untuk menunggu sebentar. Dia pun lari ke dalam, keluarlah Eisenhower," tutur Soekarno yang tertuang di dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat, ditulis Cindy Adams.

Para pejabat AS pun kebingungan. Mereka sibuk meminta maaf dan meminta Soekarno tinggal. Eisenhower pun segera keluar menemui Soekarno. Pada pertemuan berikutnya, Eisenhower menjadi lebih ramah.

Kisah lain ketika Bung Karno ke Amerika Serikat era Presiden J.F. Kennedy. Kebiasaan Presiden AS, John F. Kennedy, menerima tamu-tamu negara di lantai atas Gedung Putih. Tapi protokol itu tidak berlaku bagi Soekarno, Presiden Republik Indonesia. Itu dinyatakan langsung kepada protokol Gedung Putih.

"Kennedy mesti turun. Sambut saya di bawah. Kalau tidak, saya tidak akan datang," kata Bung Karno.

Ketika Bung Karno datang ke Gedung Putih, Kennedy turun ke lantai bawah, dan menyambutnya dengan ramah. Setelah pertemuan dua kepala negara sekadarnya, barulah keduanya bersama-sama menaiki tangga ke atas, diiringi para staf kedua petinggi negara tadi.

Bukan hanya itu. Bung Karno bahkan diberi kesempatan berpidato di Gabungan Kongres dan Senat Amerika Serikat. Ini sangat jarang terjadi, Kepala Negara disambut di Amerika Serikat dengan Sidang Gabungan Kongres dan Senat. 

Saat Bung Karno tiba di Gedung Putih, disambut Kennedy di bawah. Ketika itu, Kennedy sempat memperkenalkan para staf yang mendampinginya. Salah satunya adalah Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Charles Wilson, nama lengkapnya Charless Nesbitt Wilson. Politisi kelahiran Texas tahun 1 Juni 1933, alias satu zodiak dengan Bung Karno.

Ketika diperkenalkan, Wilson yang berperawakan gagah dan berwajah macho, maju hendak menyalami Presiden Soekarno. Saat itulah muncul spontanitas humor diplomasi yang sungguh luar biasa dari seorang Soekarno, presiden negara berkembang yang belum lama lepas dari penjajahan Belanda.

Kepada Wilson, Bung Karno tidak sekadar mengulurkan tangan untuk bersalaman. Lebih dari itu, Bung Karno dalam bahasa Inggris yang fasih berkata.

"Kombinasi baju dan dasi Tuan tidak bagus."

Berkata begitu sambil Bung Karno membetulkan ikatan dasi yang kelihatan miring. Selesai merapikan dasi Menhan Amerika Serikat, Bung Karno melanjutkan ucapannya...

"Tuan boleh punya bom atom, tapi kami punya seni yang tinggi."


Soekarno selalu menjaga harga diri bangsa dan negaranya, termasuk dari Amerika yang pernah mencoba mendikte Indonesia dengan imbalan berupa bantuan.
Tawaran itu ditolak. Soekarno beranggapan itu adalah penghinaan, Amerika mengira Indonesia adalah orang melarat yang sangat mengharapkan bantuan darinya.

Padahal, itu bukanlah bantuan melainkan utang yang harus dibayar beserta bunga-bunganya. Hal tersebut membuat Bung Karno kesal. Puncak kekesalan Bung Karno kepada Amerika Serikat, diteriakkan dalam kalimat yang sangat terkenal hingga hari ini.
"Amerika… Go to hell with your aid."

Bung Karno Selamat Dari Penembakan Karena Tongkat Saktinya

Di foto resmi kenegaraan Bung Karno yang tersebar selama ini terlihat sebuah tongkat komando yang selalu diapit di tangannya. Bahkan tongkat itu sudah menjadi ciri khas Presiden Soekarno.

Pada penulis biografinya Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Cindy Adams, Bung Karno berkata bahwa tongkat komandonya itu tidak memiliki daya sakti atau daya linuwih.

"Itu hanya kayu biasa yang aku gunakan sebagai bagian dari penampilanku sebagai pemimpin dari sebuah negara besar," kata Bung Karno kepada Cindy Adams pada suatu saat di Istana Bogor. 
Bung Karno Selamat Dari Penembakan Karena Tongkat Saktinya
Jenis tongkat yang di bawah Soekarno saat bepergian atau berpidato


Bung Karno memiliki tiga Tongkat Komando yang bentuknya sama, satu tongkat yang ia bawa saat keluar negeri, satu tongkat untuk berhadapan dengan para Jenderalnya dan satu tongkat lagi yang selalu ia bawa saat berpidato.

Namun jika harus pergi dalam keadaan mendadak dan terburu-buru, yang sering ia bawa adalah tongkat yang dibawa saat ia berpidato.

Dalam biografi itu diceritakan, pernah pada suatu saat dalam pertemuannya dengan Presiden Kuba, Fidel Castro, Castro memegang tongkat Bung Karno dan bercanda.

"Apakah tongkat ini sakti seperti tongkat kepala suku Indian?" tanya Castro. Bung Karno hanya tertawa saja mendengar pertanyaan itu. 

Saat itu Castro meminta peci hitam Bung Karno dan Bung Karno memakai pet hijau milik Castro. "Pet ini saya pakai waktu saya serang Havana dan saya jatuhkan Batista," kata Castro lagi.

Dari kacamata spiritual, mereka percaya  bahwa tongkat komando Bung Karno bukanlah sembarang tongkat. Tongkat komando Bung Karno adalah tongkat sakti, yang berisi keris pusaka ampuh.

Peristiwa paling menggemparkan bagi rakyat Indonesia kala itu adalah saat Bung Karno ditembak dari jarak dekat pada saat shalat Idul Adha.

Tembakan itu meleset dan inilah yang membuat heboh, bagaimana bisa penembaknya yang seorang jago perang terlatih, menembak dari jarak hanya lima meter tetapi tidak kena.

Di saat sidang pengadilan penembak Bung Karno, sebuah pertanyaan tadi terjawab. Apa yang dilihat penembak saat itu adalah Bung Karno membelah dirinya menjadi lima.

Keadaan inilah yang membuat bingung si penembak, yang mana Bung Karno, hingga akhirnya peluru jauh meleset tanpa mengenai Bung Karno. 

Maka tidak sedikit yang menghubungkan dengan “kesaktian” Sukarno, sehingga lolos dari beberapa kali usaha pembunuhan.

Apa kata Bung Karno? “Ah… itu semua karena lindungan Allah, karena ia setuju dengan apa-apa yang aku kerjakan selama ini. Namun kalau pada waktu-waktu yang akan datang Tuhan tidak setuju dengan apa-apa yang aku kerjakan, niscaya dalam peristiwa (pembunuhan) itu, aku bisa mampus.”


Baca: Bung Karno Ungkap Bagaimana Cara Membunuh Dia

Dari bahan apa tongkat itu dibuat? Kayu yang dibuat sebagai tongkat bukan sembarang kayu, melainkan kayu pucang kalak. Pucang adalah jenis kayu, sedangkan Kalak adalah nama tempat di selatan Ponorogo, atau utara Pacitan.

Di pegunungan Kalak terdapat tempat persemayaman keramat. Di atas persemayaman itulah tumbuh pohon pucang.

Ada begitu banyak jenis kayu pucang, tetapi dipercaya pucang kalak memiliki ciri khas. Salah satu cara untuk mengetes keaslian kayu pucang kalak, pegang tongkat tadi di atas permukaan air. 

Jika bayangan di dalam air menyerupai seekor ular yang sedang berenang, maka berarti kayu pucang kalak itu asli. Tetapi jika yang tampak dalam bayangan air adalah bentuk kayu, itu artinya bukan pucang kalak. Pucang biasa.

Tongkat ini mulai dipakai Bung Karno sejak tahun 1952, tepatnya setelah peristiwa demonstrasi 17 Oktober 1952.

Konon ceritanya, suatu malam Bung Karno didatangi orang dengan membawa sebalok kayu pohon Pucang Kalak yang ia potong dengan tangannya, balok itu diserahkan kepada Bung Karno. 

"Untuk menghadapi para Jenderal!" kata orang itu.

Lalu Bung Karno menyuruh salah seorang seniman Yogyakarta untuk membuat kayu itu menjadi Tongkat Komando
.VIVA.co.id


*DetikMiliter.com