Showing posts with label Konflik. Show all posts
Showing posts with label Konflik. Show all posts

Sunday, October 30, 2016

NATO Mengecam, Rusia Bangun Pangkalan Kapal Selam Di Laut Hitam



Kementerian Pertahanan Rusia sedang menyelesaikan pembangunan tahap final tiga dermaga untuk kapal selam Rusia di kota Novorossiysk (1.500 km sebelah selatan dari Moskow). Menurut paparan narasumber di kompleks industri militer kepada RBTH, sebanyak enam unit kapal selam Varshavyanka akan ditempatkan di pangkalan baru Armada Laut Hitam tersebut.

“Saat ini, tiga di antaranya sudah ditempatkan pelabuhan kota — Rostov-na-Donu, Novorossiysk, dan Stary Oskol. Setiap kapal selam dilengkapi dengan torpedo bawah laut untuk menyerang kapal permukaan, serta rudal “Kalibr” yang kemampuan tempurnya telah didemonstrasikan di Suriah. Rudal ini mampu mencapai target pada jarak hingga 2.500 kilometer,” kata narasumber kepada RBTH.

Menurutnya, keputusan untuk membuka pangkalan tambahan di Laut Hitam ini dilakukan karena meningkatnya aktivitas kapal NATO dalam beberapa tahun terakhir. “Penempatan kapal selam Proyek 636.6 di Novorossiysk memungkinkan Rusia untuk memantau potensi ancaman di Eropa dan Timur Tengah,” katanya.

Mengapa Pihak Rusia Perlu Pangkalan Baru?

Awalnya, pangkalan laut baru di pesisir Laut Hitam dibangun karena adanya perbedaan pendapat dalam hubungan Rusia-Ukraina pascaruntuhnya Uni Soviet. Sejak 1991, pangkalan angkatan laut di Krimea diserahkan kepada Moskow untuk disewakan. Namun, segala pembaruan armada (sampai pada peluru terakhir) harus terlebih dulu dikoordinasikan dengan parlemen Kiev.

Menurut ahli militer TASS Viktor Litovkin, membatasi aktivitas Rusia di Krimea menjadi kebijakan Ukraina setelah runtuhnya Uni Soviet. Namun, setelah Krimea bergabung dengan Rusia pada 2014, situasi pun berubah dan reformasi skala penuh armada Rusia pun dimulai.

“Pangkalan Sevastopol kini menawarkan kesempatan unik bagi Moskow. Bersama-sama dengan pangkalan baru di Novorossiysk, Rusia sepenuhnya dapat mengawasi Selat Bosphorus, infrastruktur militer di Bulgaria, serta menetralisasi ancaman sistem pertahanan rudal AS di Rumania,” kata sang ahli.

Menurut Direktur Institut Politik dan Analisis Militer Alexander Khramchikhin, kunci ancaman sistem pertahanan rudal Amerika di Eropa Timur terhadap Rusia terletak pada kemampuan untuk mengubah markas pertahanan menjadi penyerang dengan cepat.

Ancaman Angin

Sejumlah analis menuturkan, kekuatan lokasi pangkalan baru Armada Laut Hitam terletak pada kemungkinan untuk membagi kapal dan kapal selam di beberapa pangkalan angkatan laut di kawasan yang sama. Namun demikian, di pangkalan Novorossiysk masih terdapat isu-isu kunci yang harus diselesaikan.

“Pertama-tama adalah kondisi iklim,” kata Litovkin pada RBTH. “Wilayah maritim Novorossiysk sering diterjang angin utara yang bertiup dari Pegunungan Kaukasus. Angin ini dapat menghantam sejumlah kapal dan rumah yang terletak di sepanjang jalurnya.” 

“Angin dapat menghempaskan kapal hingga ke daratan dan menghancurkan infrastruktur militer. Pangkalan angkatan laut di sana kini tengah dibangun sedemikian rupa agar tiupan angin tidak menimbulkan bencana besar,” kata sang pakar. 

Menurutnya, Rusia sedang membangun sebuah terowongan tambahan di Pegunungan Kaukasus untuk menghilangkan ancaman angin yang dapat merusak.

RBTH Indonesia

Friday, October 28, 2016

Makkah Nyaris Di Rudal Kelompok Houthi

Kota suci umat Islam Makkah, Arab Saudi, Hampir saja dihantam rudal balistik kelompok Houthi Yaman pada Kamis (27/10/2016). Namun, rudal itu dicegat dan dihancurkan oleh Koalisi Arab. Foto/REUTERS/Ali Al Qarni

Milisi pemberontak Houthi Yaman meluncurkan rudal balistik ke arah kota suci Makkah pada hari Kamis (27 oktober 2016). Namun untungnya, militer koalisi Arab yang yang dipimpin Arab Saudi dengan sigap dan cepat berhasil mencegat dan menghancurkan rudal Houthi yang nyaris saja menghantam Kota Makkah itu.

Serangan Houthi dengan target Kota Makkah itu dikonfirmasi militer Saudi yang disiarkan kantor berita negara Saudi, SPA, Jumat (28/10/2016).

Menurut pernyataan militer Saudi, pasukan koalisi Arab menghancurkan rudal balistik Houthi yang sudah melesat 65 km (40 mil) dari kota suci Makkah. Serangan rudal Houthi tidak menimbulkan kerusakan terhadap situs suci umat Islam.

Makkah seperti diketahui merupakan rumah bagi berbagai situs suci dalam Islam, termasuk Masjidilharam.

Sementara itu, kelompok Houthi dalam sebuah pernyataan hari Jumat, mengkonfirmasi tembakan rudal balistik Burkan-1 ke wilayah Arab Saudi. Namun, Houthi mengklaim tembakan rudal balistik mereka diarahkan ke Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah, bandara tersibuk Kerajaan Arab Saudi.

Kelompok Houthi telah menguasai sebagian wilayah Yaman utara termasuk Ibu Kota Sanaa bersama dengan sekutunya para loyalis mantan Presiden Ali Abdullah Saleh. 

Sumber: SindoNews

Thursday, July 14, 2016

US Dan Korsel Tempatkan Missile Defense THAAD Di Seongju


Penempatan THAAD (Terminal High Altitude Area Defense) Di Korea Selatan



SEOUL – Demi melindungi beberapa basis militer Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan (Korsel) di selatan Semenanjung Korea dari ancaman serangan Korea Utara (Korut), penempatan THAAD akan segera dilakukan lewat keputusan bersama. 

THAAD (Terminal High Altitude Area Defense) atau sistem pertahanan anti-misil yang mobile itu, digadang akan jadi pilar pertahanan menangkal ancaman Korut terhadap beberapa basis militer AS-Korsel di Pyeongtaek serta Gunsan. 

Menteri Perang ISIS Tewas Di Medan Perang

Foto Menteri Perang ISIS Abu Omar Al Shishani
Foto Menteri Perang ISIS Abu Omar Al Shishani


Perdebatan Tewasnya Menteri Perang ISIS, "Akhirnya" Abu Omar Al Shishani Tewas


MOSUL – Kantor Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (AS), Pentagon, mengabarkan Menteri Perang ISIS Abu Omar al Shishani tewas akibat serangan udara pada Maret 2016. Tetapi kabar tersebut dibantah agen berita ISIS, Amaq, yang menyebut pria asal Chechnya itu masih hidup. 

Namun, agen berita yang sama pada Rabu 13 Juli 2016 mengabarkan pria bernama asli Tarkhan Batirashvili itu telah meninggal dunia. Abu Omar al Shishani dikabarkan tewas dalam pertempuran di Kota Shirqat, dekat Mosul, Irak.

Sunday, December 13, 2015

Rusia Siap Bantu Irak "Lawan" Turki

Rusia Siap Bantu Irak "Lawan" Turki
Rusia siap mendukung dan membantu pemerintah Irak dalam menjaga kedaulatan negara mereka, termasuk dukungan terhadap upaya Irak melawan Turki. (Istimewa)

Rusia siap bantu Irak Melawan Turki

MOSKOW - Pemerintah Rusia, melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) mereka menyatakan akan mendukung dan membantu pemerintah Irak dalam menjaga kedaulatan negara mereka. Ini termasuk dukungan terhadap upaya Irak melawan Turki.

Seperti diketahui, Irak dan Turki saat ini tengah bersitegang akibat kebijakan Ankara yang mengirimkan pasukan ke Mosul. Dimana, pemerintah Irak menyebut pengiriman pasukan tersebut sebagai sesuatu yang ilegal, dan merupakan pelanggaran keras terhadap kedaulatan Irak.

Kembali kepada dukungan Rusia, hal itu disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov kala berbicara dengan Ibrahim al-Jaafari melalui sambungan telepon.

Berdasarkan keterangan Kemlu Rusia, pembicaraan itu membahas mengenai tindakan yang melanggar hukum internasional.

"Dalam pembicaraan itu, Pihak Rusia menyatakan posisinya dalam mendukung kedaulatan dan integritas teritorial Irak," kata Kemelu Rusia dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Unian pada Minggu (13/12).

Dukungan Rusia kepada Irak ini sendiri datang di tengah masih tegangnya hukungan Ankara dan Moskow. Hubungan kedua negara mulai menegang, paska Turki menembak jatuh jet tempur Rusia, Su-24 di perbatasan Suriah dan Turki.


SINDOnews.com

Kapal Rusia Beri Tembakan Peringatan pada Kapal Turki

Kapal Rusia Beri Tembakan Peringatan pada Kapal Turki
Tembakan peringatakan itu dilepaskan setelah kapal Turki terus mendekati kapal perang Rusia. (Istimewa)

Rusia Dan Turki Memanas

MOSKOW - Ketegangan antara Turki dan Rusia nampaknya akan memasuki babak baru, setelah munculnya insiden di laut Aegea. Dalam insiden itu, kapal perang Rusia melepaskan tembakan peringatakan kepada kapal berbendera Turki.

Menurut keterangan Kementerian Pertahanan (Kemhan) Rusia, seperti dilansir Reuters pada Minggu (13/12), tembakan peringatakan itu dilepaskan setelah kapal Turki terus mendekati kapal perang Rusia.

"Kapal perang tipe perusak kami yakni Smetlivy, terpaksa menembakkan tembakan peringatan pada kapal Turki di Laut Aegea untuk menghindari tabrakan," jelas kementerian itu dalam sebuah pernyataan.

Sementara itu, menurut keterangan seorang sumber di Kemhan Rusia mengatakan, kapal perang mereka dua kali melepaskan tembakan peringatan kepada kapal Turki itu. Ini dilakukan setelah kapal Turki tidak menggubris tembakan peringarakan pertama, dan terus melaju ke arah kapal perang Rusia.

Pemerintah Turki sendiri sejauh ini belum memberikan keterangan apapun mengenai insiden tersebut. Insiden ini terjadi hanya beberapa pekan setelah insiden Su-24, dan diyakini akan membuat hubungan Rusia dan Turki kian memburuk.


SINDOnews.com

Tuesday, December 8, 2015

Rusia Dekati Kapal Perang Ke Istanbul Turki

Rusia Dekati Kapal Perang Ke Istanbul Turki
Kapal perang Rusia, Caesar Kunikov 

Kapal Perang Rusia Dekati Istanbul Turki

Ketegangan Rusia dan Turki terus memanas sejak ditembak jatuhnya pesawat jet Su-24 Rusia oleh Turki. Kapal perang Kremlin, Caesar Kunikov, bergerak mendekati Istanbul, melintasi perairan Turki dengan membawa peluncur roket.
Gerakan kapal perang itu, membuat Turki marah dan menyebutnya sebagai tindakan provokasi. Kemarahan dari Turki disampaikan Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu.
”Itu menunjukkan rudal yang dioperasikan oleh seorang tentara di sebuah kapal perang Rusia, atau hal-hal lain seperti senjata anti-pesawat, itu adalah provokasi murni,” kata Cavusoglu, seperti dilpaorkan Hurriyet Daily News.
”Kapal perang Rusia memamerkan senjata adalah provokasi,” lanjut Cavusoglu dalam pidato yang disiarkan di stasiun NTV.
Çavu?o?lu menegaskan, Turki berhak merespons atas aksi yang dianggap sebagai ancaman tersebut dengan cara yang dianggap perlu.

tegang

Sebelumnya, saluran televisi Turki NTV menayangkan foto seseorang yang diduga merupakan tentara Rusia saat ia berada di atas kapal militer Cesar Kunikov yang tengah menyeberangi Selat Bosporus. Di tangannya pria tersebut, terlihat jelas sesuatu yang sangat mirip dengan pelontar granat PZRK atau senjata serupa. NTV menyebut foto tersebut diambil pada tanggal 5 Desember 2015, saat kapal militer Cesar Kunikov menuju Suriah.
Sejatinya, di bawah perjanjian Perang Dunia Pertama, Turki harus membiarkan semua kapal melewati perairannya yang bergerak melalui Istanbul, karena merupakan kawasan internasional.
Namun, atas gerakan kapal perang Rusia itu, Turki dilaporkan telah memanggil Duta Besar Rusia untuk Ankara, Andrey Karlov, seperti disampaikan Kementerian Luar Negeri Turki, Selasa (8/12/2015).
Seorang pejabat kementerian itu mengatakan bahwa, Dubes Andrey Karlov dipanggil ke kantor Kementerian Luar Negeri Turki setelah media Turki menerbitkan foto tentara Rusia yang membidikkan peluncur roket di atas kapal perang.
Jakartagreater.com

Kapal Selam Siluman Rusia Berada di Laut Mediterania

Kapal Selam Siluman Rusia Berada di Laut Mediterania
Kapal selam siluman Rusia, Rostov on Don yang membawa rudal jelajah dilaporkan berada di Laut Mediterania | (Kyivpost)
MOSKOW - Sebuah sumber di Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan, sebuah kapal selam canggih kelas kilo milik Kremlin telah berada di dekat pantai Suriah. Kapal selam bertenaga diesel yang diberi nama Rostov on Don ini membawa rudal jelajah buatan Rusia yang modern, Kalibr.

Seperti dikutip dari laman Russian Today, Selasa (8/12/2015), laporan ini tidak dibantah atau pun tidak dikonfirmasi oleh Kementerian Pertahanan Rusia. Rusia sendiri sebelumnya sempat menghajar sejumlah target milik ISIS dengan rudal jelajah Kalibr dari kapal perang yang ada di Laut Kaspia pada awal Oktober.

Kapal selam Rostov on Don adalah model trade-off pertama dari kapal selam generasi ketiga dari kelas Varshavyanka. Kapal selam ini bertenaga diesel dengan sistem stealth ini diyakini sebagai kapal selam paling tenang di dunia.

Ukurannya yang relatif kecil sangat membantu kapal ini dalam bermanuver di perairan dangkal.
Kapal selam ini dipersenjatai dengan torpedo 533mm dan dilaporkan dilengkapi dengan rudal jelajah Kalibr-PL yang telah dimodifikasi untuk kapal selam.

Kapal berbobot 4.000 ton ini mampu mencapai kecepatan 20 knot dibawah air dan mampu menyelam hingga kedalaman 300 meter.

Kapal ini mengangkut 52 orang dan bisa menghabiskan waktu selama 45 hari di laut sebelum pergi ke pelabuhan. NATO menyebut kapal selam siluman ini sebagai jenis kapal selam Black Hole karena kemampuannya menyelam tanpa terdeteksi.

SINDOnews.com


Monday, November 30, 2015

AS Hentikan Serangan Udara di Suriah saat Rusia Sebar S-400

Sistem rudal pertahanan S-400 Rusia yang ditempatkan di Suriah. | (Sputnik)

Amerika Serikat (AS) dan Turki menghentikan serangan udaranya di sekitar wilayah Suriah saat Rusia menyebar sistem rudal pertahanan udara S-400 di pangkalan udara Khmeimim. AS selama ini memimpin koalisi internasional yang berdalih menyerang ISIS di Suriah dan Irak.

Pihak Combined Joint Task Force Operation Inherent Resolve (CJTF-OIR) melalui seorang juru bicara kepada Sputnik, mengatakan bahwa tidak adanya serangan udara koalisi anti-ISIS ”tidak ada hubungannya dengan penyebaran S-400 di Suriah”.

”Fluktuasi atau tidak adanya serangan di Suriah mencerminkan pasang surut dan aliran pertempuran,” kata juru bicara itu yang berbicara dalam kondisi anonim, sebagaimana dilansir Russia Today, Sabtu (28/11/2015).

Dia menambahkan bahwa, CJTF-OIR melakukan serangan udara kapan dan di mana yang perlu, mendedikasikan banyak waktu untuk meneliti target guna memastikan efek maksimum dan meminimalkan korban sipil.

CJTF-OIR melaporkan pada hari Jumat bahwa koalisi yang dipimpin AS tidak melakukan serangan mendadak terhadap sasaran-sasaran di Suriah sejak hari Kamis, namun serangan udara terhadap kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Irak terus dilakukan. Menurut CJTF-OIR ada 18 serangan terhadap target teroris.

Pada Selasa (24/11/2015) pesawat jet tempur F-16 menembak jatuh pesawat jet pembom Su-24 Rusia yang diklaim Kremlin sedang beroperasi memerangi ISIS. Turki berdalih pesawat jet pembom Rusia tersebut melanggar wilayah udara Turki dan sudah berulang kali diperingatkan sebelum ditembak jatuh.

Dua pilot Su-24 berhasil keluar ketika pesawat jet itu ditembak Turki. Namun, salah satunya ditembak mati kelompok militan ketika terjung payung, sedangkan satu pilot lainnya telah diselamatkan setelah melarikan diri dari kelompok militan Suriah.

Selain itu, helikopter Rusia yang menjalankan misi pencarian dan penyelamatan dua pilot Su-24 telah ditembak oleh kelompok radikal di Suriah dengan rudal anti-tank TOW buatan AS.

Sistem rudal S-400 dikerahkan Rusia di Suriah sejak pesawat jet pembom Su-24 ditembak jatuh oleh pesawat F-16 Turki. Senjata mutakhir itu disiagakan Rusia agar pesawat tempurnya tidak ditembak lagi.

SINDOnews.com

Tuesday, October 27, 2015

AS Akan Kirim Kapal Perusak Ke Laut China Selatan

AS Akan Kirim Kapal Perusak Ke Laut China Selatan1
Kapal Destroyet Amerika

Jakarta, Angkatan Laut Amerika Serikat berencana mengirimkan kapal perusak dengan peluncur rudal ke wilayah 12 mil laut, atau sektar 22,2 km dari pulau buatan yang dibangun oleh China di Laut Cina Selatan. Langkah ini dinilai merupakan salah satu langkah AS untuk menantang klaim China di salah satu jalur laut tersibuk di dunia itu.

Dilaporkan Reuters, seorang pejabat pertahanan AS menyatakan kapal perusak USS Lassen akan mulai berpatroli pada Selasa (27/10) pagi waktu setempat di dekat terumbu karang Subi dan Mischief di kepulauan Spratly, pulau yang dibuat China dengan cara pengerukan sejak 2014.

Patroli kapal perusak itu akan menjadi salah satu tantangan AS yang paling serius di sekitar batas teritorial yang diklaim China. Langkah ini dinilai akan memantik kemarahan Beijing, yang pada bulan lalu mengatakan "tidak akan pernah mengizinkan negara manapun" melanggar teritorial perairan dan wilayah udara di Spratly.

Kapal tersebut kemungkinan akan disertai dengan pesawat pengintai P-8A dan pesawat pengintai P-3 milik Angkatan Laut AS, yang telah melakukan misi pengintaian rutin di kawasan itu, menurut pejabat pertahanan, yang tidak dipublikasikan namanya.

Patroli tambahan juga rencananya akan dilakukan dalam beberapa minggu mendatang dan kemungkinan berpatroli di sekitar wilayah Spratly yang juga diklaim oleh Vietnam dan Filipina.

"(Patroli) ini akan terus terjadi, tidak hanya satu kali," kata pejabat tersebut.

Juru bicara Gedung Putih Josh Earnest menolak berkomentar soal operasi khusus, dan menyerahkannya kepada Pentagon. Meski demikian, Earnest menyatakan AS menilai harus menekankan pentingnya arus perdagangan bebas di Laut Cina Selatan, kepada China.

"Terdapat aktivitas perdagangan senilai miliaran dolar dari seluruh daerah di dunia di perairan itu. AS memastikan harus ada aliran perdagangan bebas yang sangat penting untuk ekonomi global," katanya.

Baca juga: China buntuti kapal perang AS di laut sengketa.

Patroli tersebut akan menjadi yang pertama dalam wilayah Spratly sejak China mulai membangun terumbu di 2014. Amerika Serikat terakhir kali melewati teritorial Spratly pada 2012.

Keputusan untuk mengirimkan kapal perusak berisiko memperburuk hubungan AS yang sudah tegang dengan China.

Anggota Kongres AS, Randy Forbes, ketua Angkatan Bersenjata Seapower dan Proyeksi Angkatan Sub-komite dan Ketua Kongres Kaukus China, memuji rencana tersebut.

"Keputusan AS mengirimkan kapalnya ke wilayah pulau yang dibuat China di Laut China Selatan merupakan respon yang diperlukan untuk mendestabilisasi pengaruh China di kawasan itu," bunyi laporan dari Forbes.

China mengklaim sebagian besar Laut China Selatan, yang menjadi jalur perdagangan dunia senilai lebih dari US$5 triliun setiap tahunnya. Vietnam, Malaysia, Brunei, Filipina, dan Taiwan saling memiliki klaim di perairan ini. (ama)

CNN Indonesia


China Buntuti Kapal Perang AS Di Laut Sengketa

Beijing, Kapal perang China membuntuti dan memberi peringatan kepada armada tempur laut Amerika Serikat yang menyambangi wilayah sengketa di Laut China Selatan pada Selasa (17/10).

Seperti diberitakan Reuters, AS menurunkan kapal penghancur USS Lassen ke wilayah sekitar 12 mil laut dari Terumbu Karang Subi di kepulauan Spratly yang diklaim China. 


China Buntuti Kapal Perang AS Di Laut Sengketa1
Ilustrasi USS Lessen (Reuters/U.S. Navy/Mass Communication Specialist 1st Class Martin Wright)

Pejabat pertahanan AS mengatakan, selama beberapa jam USS Lassen juga mendekat ke Terumbu Karang Michief. Langkah ini disebut cara AS untuk menguji reaksi China jika ada kapal yang berlayar di wilayah sengketa tersebut.

AS sejak tahun 2013 tidak pernah melakukan patroli laut di kawasan 12 mil laut dari tujuh wilayah yang diklaim China.

Kementerian Luar Negeri China mengatakan bahwa mereka "telah mengawasi, membuntuti dan memperingatkan USS Lassen" yang dianggap memasuki perairan itu secara ilegal tanpa ada izin dari pemerintah China.

Dalam pernyataannya, Kemlu China menegaskan mereka akan terus mengawasi wilayah laut dan udara di kawasan itu untuk mencegah adanya penyusup.

"China mendesak pihak AS untuk menganggap dengan serius posisi China, segera memperbaiki kesalahan dan tidak mengambil langkah berbahaya atau provokatif yang mengancam kedaulatan dan kepentingan nasional China," ujar Kemlu China.
Baca juga: Kapal Laut AS cegat rudal balistik.


Kepulauan Spratly yang diyakini kaya minyak dan gas juga diklaim oleh Vietnam, Brunei, Malaysia, Filipina, dan Taiwan.

China dilaporkan telah membangun pulau buatan dan pangkalan militer yang terdiri dari landasan pacu serta pelabuhan.

Pejabat pertahanan AS lainnya mengatakan mereka tetap akan melakukan patroli di wilayah itu kendati mendapatkan peringatan dari China.

"Patroli akan dilakukan secara rutin, tidak hanya sekali. Ini bukan soal China," kata pejabat yang enggan disebut namanya.

Juru bicara Gedung Putih Josh Earnest mengatakan bahwa kepentingan AS dalam hal ini adalah kebebasan pelayaran di Laut China Selatan yang terancam akibat klaim Beijing.

China menguasai hampir seluruh kawasan Laut China Selatan yang merupakan yang dilalui transportasi perdagangan senilai US5 triliun per tahunnya. (stu)

CNN Indonesia


Monday, October 26, 2015

Kapal Laut AS cegat Rudal Balistik

Kapal Laut AS cegat Rudal Balistik2
USS Ross (DDG-71) -kapal pemandu misil Arleigh

Edinburgh – Angkatan Laut AS merilis video yang menunjukkan USS Ross (DDG-71) -kapal pemandu misil Arleigh- menghancurkan rudal balistik dekat Skotlandia.

Dikutip dari Business Insider, Kamis (22/10/2015), latihan pada 20 Oktober di Samudra Atlantik Utara yang melibatkan kapal Angkatan Laut Amerika untuk menembak jatuh sebuah rudal balistik lawan itu merupakan pertama kalinya dilakukan.
Menurut Angkatan Laut AS, video ini memperlihatkan Standard Missile-3 (SM-3) Block IA diuncurkan dari dek kapal dan berhasil mencegat rudal balistik Terrier Orion dari jarak pendek yang ditembakkan dari Hebridges Range di Skotlandia.
“SM-3 adalah salah satu dari dua kapal antirudal jelajah. USS The Sullivan (DDG 68) juga menembakkan SM-2 selama latihan,” kata Angkatan Laut AS dalam siaran persnya.
Liputan6.com

Pasukan Mesir tewaskan 25 gerilyawan di Sinai


Asap mengepul di Sinai Utara, Mesir, terlihat dari perbatasan selatan Jalur Gaza dengan Mesir. (REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa)


Pasukan Angkatan Darat dan polisi Mesir menewaskan 25 gerilyawan selama bentrokan dua hari di Sinai Utara, demikian laporan kantor berita resmi Mesir, MENA, pada Minggu (25/10).

Pasukan gabungan melucuti 39 alat peledak dan menangkap 15 tersangka di provinsi itu menurut laporan tersebut.

Pasukan gabungan juga menghancurkan beberapa tempat penyembunyian peledak dan tujuh ton ganja.

Pada September, Angkatan Darat Mesir memulai operasi anti-teror besar-besaran di Sinai Utara. Militer Mesir menyatakan ratusan gerilyawan tewas selama operasi yang masih berlangsung tersebut.
 
Pada 7 Oktober, militer Mesir melancarkan tahap kedua operasi itu, menjulukinya "Hak Syuhada".

Mesir menghadapi serangan anti-pemerintah yang telah menewaskan atau melukai ratusan personel polisi dan tentara sejak penggulingan presiden Mohammed Moursi pada Juli 2013, sebagai reaksi atas protes terhadap kekuasaannya.

Kebanyakan serangan anti-pemerintah diklaim oleh "Negara Sinai", kelompok gerilyawan yang berpusat di Sinai dan berafiliasi dengan kelompok Negara Islam (Islamic State of Iraq and Syria/ISIS), demikian seperti dilansir kantor berita Xinhua. (Uu.C003)

ANTARAnews.com

Sunday, October 25, 2015

'Hujan' Bom Rusia di Suriah Jadi Pukulan Psikologis bagi AS

'Hujan' Bom Rusia di Suriah Jadi Pukulan Psikologis bagi AS1
Rentetan "hujan" bom Rusia di Suriah dinilai jadi pukulan psikologis buat AS. | (Sputnik)

Rusia Terlalu Tangguh

MOSKOW - Pesawat-pesawat jet tempur Rusia yang menghujani Suriah dengan bom-bom dahsyat dinilai menjadi pukulan semacam “bom” psikologis bagi Amerika Serikat (AS). Demikian analisis kolomnis terkemuka Rusia, Vladimir Soloviev.

Menurutnya, dalam sebulan terakhir, opini publik dunia beralih dari menonton video propaganda kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) ke agresi militer Kremlin di Suriah yang sudah membuat AS dan sekutunya kesal. Baca juga: Sadis, ISIS ijak tawanan dengan tank.

Soloviev melanjutkan, waktu untuk diskusi tentang teroris berjenggot telah lewat. Sekarang semua orang berbicara tentang aksi pilot-pilot Rusia. Menurutnya, Washington mau tidak mau harus menyaksikan “pahlawan” baru di Suriah dalam memerangi kelompok teror.

'Hujan' Bom Rusia di Suriah Jadi Pukulan Psikologis bagi AS2


Analisis Soloviev bukan sekadar argumen pribadi. Dia mengutip pengakuan Komandan Pasukan Angkatan Darat di Eropa, Jenderal Ben Hodges, yang terkejut dengan kemampuan Moskow menyebarkan tentaranya di kawasan Timur Tengah dalam waktu yang sangat singkat.
“Ia bingung dengan hal ini,” tulis Soloviev dalam sebuah kolom yang dikutip Sputnik, Senin (26/10/2015).

Soloviev juga mengutip analisis pemberitaan wartawan Italia yang pernah membuat laporan kehebatan agresi Rusia di Suriah. ”Rusia terlalu kuat,” judul laporan itu. ”Ledakan bom Rusia di Suriah telah memukul Amerika dengan gelombang ledakan. Ini semacam ‘bom psikologis’,” kata Soloviev.

Intervensi militer Rusia di Suriah, kata dia, telah mematahkan citra AS di panggung dunia. Terlebih, Rusia telah mengusulkan Pemilu sebagai solusi untuk mengakhiri krisis Suriah.

”Amerika sedang menonton Kremlin. Apa yang lebih penting adalah bahwa AS telah diabaikan sebagai  negara adidaya,” ujarnya.

Sindonews.com

Sadis, ISIS Lindas Tahanan Dengan Tank

ISIS mengeksekusi tahanannya dengan melindasnya menggunakan Tank | (Mirror)

Kekejaman ISIS

LONDON - Aksi sadis dan brutal kembali dilakukan oleh ISIS dalam mengeksekusi tahanan. Dalam sebuah video yang baru saja dirilis, kelompok ekstrimis ini melindas seorang remaja yang menjadi tahanannya dengan menggunakan tank.

Korban kekejaman ISIS itu bernama Fadi Amr al-Zaydan. Remaja berusia 19 tahun ini berjuang untuk pasukan pro-pemerintah di Suriah, ketika ia ditangkap oleh ISIS. Menurut Observatorium HAM untuk Suriah, Zaydan menjadi tahanan pertama yang dieksekusi dengan cara brutal tersebut, seperti dikutip dari laman Mirror, Minggu (25/10/2015).

Diduga, video ini sengaja dirilis sebagai bentuk pembalasan atas serangan heroik yang dilakukan oleh pasukan gabungan Kurdi dan Amerika Serikat saat membebaskan 70 sandera di Irak beberapa hari lalu. Dalam serangan itu, enam anggota ISIS ditahan dan lebih dari 20 orang lainnya tewas, seperti diungkapkan oleh Dewan Keamanan Kurdistan.

Aksi brutal dan sadis dalam mengeksekusi tahanan memang kerap dilakukan oleh ISIS. Kelompok yang dipimpin oleh Abu Bakr al-Baghdadi ini pernah membakar hidup-hidup seorang pilot Angkatan Udara Yordania. Mereka juga pernah memenggal dan membunuh tahanannya dengan cara diseret di bagian belakang truk.

Sindonews.com

Korut Berang Kapal Patrolinya Diberi Tembakan Peringatan

kapal korut1
Korut menilai tembakan peringatan yang dilakukan oleh angkatan laut Korsel terhadap kapal patrolinya adalah tindakan provokasi | (Todayonline)

PYONGYANG-Tensi ketegangan di Semenanjung Korea yang belum lama ini mereda tampaknya akan kembali panas. Hal ini dipicu oleh tembakan peringatan yang dilepaskan Angkatan Laut Korea Selatan (Korsel) terhadap kapal patroli Korea Utara (Korut) yang mendekati daerah perbatasan laut yang disengketakan.

Menurut seorang juru bicara Korut, penembakan yang dilakukan oleh Korsel terhadap kapal patroli yang tengah menjalankan operasi rutin adalah tindakan provokasi. Ia pun memperingatkan jika tindakan tersebut bisa memicu konfrontasi militer.

"Hanya akan ada bencana perang, jauh dari peningkatan hubungan Utara-Selatan, selama militer Korsel melakukan tindakan sembrono," ujar jubir Korut yang tidak ingin identitasnya diungkapkan, seperti disitir dari laman Reuters, Minggu (25/10/2015).

Sebelumnya, Angkatan Laut Korsel melepaskan tembakan peringatan kepada kapal patroli Korut di dekat Garis Batas Utara (NLL) yang masih disengketakan. Insiden tersebut terjadi pada Sabtu (24/10/2015) kemarin. Tembakan peringatan itu bertujuan untuk memaksa kapal patroli Korut untuk mundur dari wilayah tersebut.

Kedua Korea pernah terlibat perang di laut pada 1999 dan menewaskan puluhan pelaut di kedua sisi. Pada tahun 2010, sebuah kapal Angkatan Laut Korsel tenggelam akibat serangan torpedo dan menewaskan 46 orang pelaut. Korsel pun menuding Korut sebagai biang keladinya, namun hal itu dibantah oleh Korut.

sindonews.com

Kapal AL Korsel Lepaskan Tembakan Peringatan pada Kapal Korut

Kapal milik Angkatan Laut Korea Selatan (Korsel) dilaporkan melepaskan tembakan peringatan kepada kapal berbendera Korea Utara (Korut). (Istimewa)

SEOUL - Kapal milik Angkatan Laut Korea Selatan (Korsel) dilaporkan melepaskan tembakan peringatan kepada kapal berbendera Korea Utara (Korut). Tembakan peringatan ini dilepaskan ketika kapal Korut berlayar di dekat perbatasan maritim kedua negara.

Insiden itu dilaporkan terjadi kemarin malam. Saat itu, kapal AL Korsel melihat kapal Korut yang terus mendekati wilayah perbatasan kedua negara di teluk Korea. Tak ingin wilayah maritim dilanggar, AL Korsel akhirnya memutuskan untuk melepaskan tembakan peringatan.

"AL Korsel menembakkan beberapa tembakan ke arah sebuah kapal patroli Korut yang melintasi wilayah perbatasan maritim yang disengketakan pada hari Sabtu, memaksanya untuk mundur," ujar seorang pejabat Kementerian Pertahanan Korsel.

"Kapal Korut tidak membalas tembakan peringatan tersebut, dan tidak berusaha untuk membuat tindakan provokasi lainnya," sambung pejabat itu yang berbicara dalam kondisi anonim, seperti dilansir Jpost pada Minggu (25/10).

Korut dan Korsel sendiri baru saja kembali berdamai setelah sempat bersitegang selama beberapa hari. Ketegangan terakhir dipicu oleh kebijakan Korsel yang menyiarkan propganda anti-Korut diperbatasan kedua negara, yang dibalas dengan serangan roket oleh Korut.

sindonews.com

Saturday, October 24, 2015

Soal Uji Coba Rudal Balistik, Rusia Bela Iran

Rudal Iran
Rudal balistik milik Iran meluncur dari lokasi yang belum diketahui pada 10 Oktober lalu | (Reuters)

Rudal Iran

Utusan Rusia untuk PBB mempertanyakan klaim Amerika Serikat (AS) dan Eropa yang menilai uji coba rudal balistik yang dilakukan oleh Iran telah melanggar resolusi PBB. Rusia menilai, uji coba peluncuran rudal balistik milik Iran jangan dijadikan sebagai sebuah masalah yang sensasional.

"Saya pikir kita harus hati-hati tentang hal ini," ujar Duta Besar Rusia untuk PBB, Vitaly Churkin. "Kita harus melihat ke dalam rincian teknis dan kemudian tentu saja memperhitungkan situasi politik. Seseorang harus profesional terhadap masalah itu. Ini bukan semacam sensasi dari sebuah masalah," tambahnya lagi, seperti dikutip dari laman AFP, Jumat (23/10/2015).

Sebelumnya, Ingris, Prancis, Jerman, dan Amerika Serikat (AS) meminta komite sanksi Dewan Keamanan PBB untuk menyelidiki uji coba peluncuran rudal jarak menengah yang dilakukan oleh Iran pada 10 Oktober lalu. Empat negara itu menilai, apa yang dilakukan oleh Iran sebagai sebuah pelanggaran serius dan meminta DK PBB mengambil tindakan yang tepat.

Duta Besar AS, Samantha Power menyatakan, uji coba peluncuran rudal balistik jarak menengah menunjukkan kemampuan sebuah senjata nuklir. Power menyebutnya sebagai peluncuran provokatif dan AS menganggapnya sebagai sebuah pelanggaran yang serius.

Namun, pandangan berbeda ditunjukkan oleh China. Duta Besar China untuk PBB, Liu Jieyi menolak mendukung AS dan Eropa yang melihat uji coba rudal Iran sebagai bentuk pelanggaran resolusi PBB. "Kami memberikan perhatian terhadap hal ini. Kami akan membahasnya di dewan," ucap Liu.

Baca juga: Misteri Pesawat MH370 dan MH17.

Sindonews.com

Friday, October 23, 2015

Misteri Pesawat MH370 Dan MH17

This summary is not available. Please click here to view the post.