Showing posts with label Soekarno. Show all posts
Showing posts with label Soekarno. Show all posts

Friday, October 30, 2015

Kisah Mengharukan Bung Karno Ketika Di Pengasingan

Mengulik kisah kehidupan Sang Proklamator memang tak ada habisnya. Bung Karno, Presiden terhebat Indonesia ini selalu memiliki sesuatu yang mampu menggugah semangat kita. Membangkitkan rasa nasionalisme di tengah kengerian Indonesia zaman sekarang.
Hidup Bung Karno sebagai pejuang dan pemimpin Indonesia tak mudah. Kesengsaraan sering menimpanya hampir setiap hari. Ia berjuang mati-matian dengan mengorbankan nyawanya. Mengorbankan harta benda dan segala hal yang mampu membuat Indonesia menjadi negara yang berdaulat.
Bung Karno pernah dipenjara selama beberapa tahun, ia pun juga pernah diasingkan karena dianggap berbahaya. Namun, apa pun yang terjadi, ia tetap berjuang mati-matian meski kadang bersembunyi-sembunyi di dalam penjara. Jeruji besi bukanlah halangan untuk terus berjuang. Diasingkan juga bukanlah akhir dari perjuangan.
Berikut kisah mengharukan Bung Karno ketika berada di pengasingan. Mari kita simak dan teladani bersama-sama!

Kesengsaraan Bung Karno Sebelum Jadi Manusia Terasing

Seperti yang sudah di sebutkan di atas, Bung Karno selalu hidup dengan kesengsaraan. Segalanya selalu nampak sulit meski ia tak pernah menyerah, dan tak ada pikiran untuk hal memalukan itu. Semasa muda Bung Karno selalu aktif dalam organisasi partai. Ia ingin menyalurkan pandangan-pandangannya terhadap bangsa ini, negeri yang telah menjadi budak selama ratusan tahun.

Kisah Mengharukan Bung Karno Ketika Di Pengasingan1
Penjara Banceuy 
Apa yang dilakukan oleh Soekarno di organisasi, dalam hal ini PNI, dianggap berbahaya. Aktivitasnya selalu dicurigai oleh pemerintah Belanda kala itu. Hingga pada tanggal 29 Desember 1929, ia diciduk oleh Belanda bersama tiga rekannya yang bernama Maskoen, Soepriadinata, dan Gatot Mangkoepraja.
Setelah diciduk, Bung Karno dijebloskan ke penjara Banceuy. Di dalam penjara yang dibangun Belanda pada tahun 1877 ini, Bung Karno hidup di dalam sel selama 8 bulan. Setelah itu dia diadili oleh pemerintah Belanda dan terbukti dianggap bersalah melakukan tindakan meresahkan.
penjara sukamiskin [image source]
Penjara sukamiskin
Setelah resmi bersalah, Bung Karno dipindahkan di penjara Sukamiskin yang terletak di Bandung. Penjara ini dibangun oleh pemerintah Belanda pada tahun 1817 di lahan 2 hektar dan berisi sekitar 552 sel tahanan. Di penjara ini, Bung Karno menempati ruang TA 01 yang terletak di lantai dua. Di penjara yang super besar ini, Bung Karno bertahan dan terus berjuang hingga dibebaskan pada 31 Desember 1931.

Flores Menyambut Bung Karno Dengan Sebuah Senyuman

Setelah keluar dari penjara Sukamiskin, semangat berjuang Bun Karno, si Singa Podium kembali terbakar. Ia dan banyak temannya yang sabar menunggu mulai bergerak lagi. Menyusun strategi untuk membuat Indonesia merdeka. Membuat negeri budak ini menjadi negeri merdeka yang penuh ketentraman dan kerukunan. Bung Karno sudah tidak tahan melihat penindasan, dan darah segar pejuang menetes lagi di ibu pertiwi.
Rumah pengasingan Ende [image source]
Rumah pengasingan Ende 
Namun sayang sungguh sayang, apa yang dilakukan oleh Bung Karno lagi-lagi membuat Belanda geram. Akhir ia kembali diciduk, kembali dianggap bersalah dan kali ini dibuang. Dilempar jauh-jauh dari Pulau Jawa. Bung Karno dinaikkan kapal laut selama 8 hari penuh hingga akhirnya tiba di Ende, Flores pada 14 Januari 1934.
Selama di Ende, Bung Karno dan Istri tercintanya, Inggit, menempati rumah milik Abdullah Ambuwaru. Di rumah sederhana ini, Bung Karno mengalami suka duka selama empat tahun penuh. Ia bahkan sempat merasa kalah, merasa menyerah dengan keadaannya. Meski berfigur pemimpin, beliau masihlah manusia. Masihlah individu yang kadang memiliki sisi lemah di dalam hatinya.

Sebuah Kata Menyerah yang Nyaris Terucap dari Mulut Bung Karno

Sebagai seorang interniran atau manusia buangan, Bung Karno sedikit sekali memiliki akses untuk berkorespondensi. Hal inilah yang kadang membuat ia jadi drop, merasa sendirian, dan kalah telak dari Belanda. Apa yang ia lakukan selama ini seperti sesuatu yang tak berguna. Lenyap begitu saja hingga tak menyisakan apa-apa. Bung Karno hanya beberapa kali berkirim surat dengan T.A. Hassan di Bandung untuk membicarakan Islam.
Bung Karno dan Inggit
Bung Karno dan Inggit 
Kesendirian dan kesepian dari calon pemimpin ini ternyata diketahui Inggit, istri yang rela dibawa ke pengasingan. Inggit tidak tahan melihat Bung Karno yang selalu nampak murung, nampak tak bertenaga dan sering melamun. Akhirnya Inggit berusaha membuat suami yang dipanggilnya “Ngkus” ini agar bisa terus bersemangat.
Inggit terus menanyainya, terus menekan Bung Karno untuk berbicara. Akhirnya apa yang dipikirkan Inggit memanglah jadi kenyataan. Suaminya nyaris menyerah. Berbekal kesabaran dan rasa cintanya pada Bung Karno, Inggit membuat suaminya berjanji malam itu. Berjanji agar tidak menyerah. Berjanji untuk terus berjuang sampai akhir meski sendirian saja.
Inggit, istri kedua Bung Karno
Inggit, istri kedua Bung Karno 
Malam itu, Bung Karno yang hebat menangis. Ya, menangis sekeras-kerasnya karena merasa kalah. Merasa tak berguna hingga tak tahu harus melakukan apa. Sang Proklamator terus meminta maaf kepada Inggit karena tak mampu membahagiakannya, selalu membawanya ke tempat yang penuh penderitaan. Dan inilah balasan Inggit atas perkataan suaminya: “Cinta saya kepada Ngkus tak bisa diukur hanya dengan ikut Ngkus ke tanah buangan. Saya bahagia karena bisa berbakti dengan suami. Saya bahagia. Tapi Ngkus janji ya, Ngkus harus bangkit.

Tirakat Bung Karno Untuk Memikirkan Bangsa Indonesia

Setelah mengalami masa sulit yang benar-benar membuat Bung Karno di titik nadir, Ia akhirnya bangkit. Perlahan-lahan Ia mulai memikirkan bangsa Indonesia lagi meski rasanya sangat sulit. Setiap hari, Bung Karno banyak menghabiskan diri di dalam kamar solat, atau kalau tidak ke kamar meditasi. Ia ingin menenangkan pikiran dan banyak-banyak mendekatkan diri kepada Tuhan yang mampu mengubah segala hal.
Rumah Ende bung Karno
Rumah Ende Bung Karno
Nyaris setiap hari Bung Karno berjalan ke pantai yang berjarak sekitar 1 km dari rumah. Ia kerap memandang lepas ke arah pantai sembari duduk di bawah pohon sukun. Dari tempat inilah Bung Karno mulai memikirkan ideologi bangsa ini. Dan tahukah anda, batang pohon sukun tempat Bung Karno merenung bercabang lima. Mirip dengan jumlah sila dari Pancasila.
Tirakat yang dilakukan Bung Karno di tempat ini usai saat ia dibuang lagi ke Bengkulu.

Bengkulu Beruntung Pernah Membesarkan Putra Bangsa

Setelah menjalani pengasingan di Ende, Flores, Bung Karno dikirim Belanda ke Bengkulu. Di daerah yang terbilang masih primitif dibanding daerah lain diharapkan akan mematahakan semangat dari Bung Karno. Namun nyatanya tidak, selama tinggal di tempat ini justru semangat juang dari Bung Karno meluap-luap tak bisa dibendung lagi.
Bung Karno dan warga Bengkulu
Bung Karno dan warga Bengkulu 
Awalnya ia dianggap sebagai orang yang aneh oleh warga. Sikap berapi-api dalam menjalin korespondensi membuat Bung Karno dianggap sok kenal sok dekat. Banyak warga yang takut dan menganggap Bung Karno akan memberikan pengaruh buruk. Bung Karno sebenarnya tahu hal ini, namun semangatnya untuk mencari teman diskusi membuatnya jadi terisolasi dan nyaris tak diajak bicara oleh siapa-siapa.
Masjid Bung Karno di Bengkulu
Masjid Bung Karno di Bengkulu
Namun bukan Bung Karno namanya jika menyerah dengan cepat. Ia akhirnya mendirikan masjid. Ia menarik banyak warga datang untuk bercakap-cakap masalah bangsa meski secara samar. Bung Karno mampu menyulut semangat kemerdekaan pada masyarakat dengan rapi. Bahkan Belanda tidak akan mengetahuinya.

Panggung Pertunjukan Sebagai Tonggak Ledakan Nasionalisme

Lama berselang, akhirnya warga Bengkulu mempercayai Bung Karno. Bahkan mereka menganggap sebagai seorang guru. Seorang cendekiawan yang dipersilakan mengajar Agama ke sekolah-sekolah. Tentu Bung Karno tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia yang haus akan dakwah mau melakukan apa saja meski secara sembunyi-sembunyi.
Untuk menarik pemuda, Bung Karno membuat sebuah grup pertunjukan bernama Monte Carlo. Di pertunjukan musik dan drama ini, Bung Karno menulis sendiri naskahnya. Ia memasukkan nilai-nilai sosial dan nasionalisme dengan cara yang indah. Belanda yang mengawasinya tak akan pernah tahu.
rumah pengasingan bung karno di Bengkulu
Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu
Dari pertunjukan inilah semangat juang pemuda Bengkulu menjadi berapi-api. Hingga Bung Karno dinyatakan bebas di tahun 1942 dan memproklamasikan Indonesia di tahun 1945, pemuda di Bengkulu terus berjuang. Membela Indonesia yang merupakan harga mati.
Itulah kisah-kisah Bung Karno ketika berada di pengasingan. Dua pelajaran yang bisa kita petik dari kisah ini. Pertama, perjuangan harus dilakukan sekuat tenaga jika ingin memperoleh kesuksesan. Kedua, jika merasa tak kuat dan nyaris menyerah, menangislah, ceritakan keluh kesah kepada orang terkasih. Mereka akan membuat semangat juang kembali meluap lebih besar dari sebelumnya.
Dan Bagaimanakan dengan kita Sudahkah kita berjuang sekuat tenaga untuk negeri ini?

Saturday, October 24, 2015

Peristiwa menegangkan saat pilot TNI AU mau bom Presiden Soekarno

MIG 17 AURI

Percobaan pembunuhan Soekarno dengan menjatuhkan bom dari pesawat jet MIG 17 AURI.

Presiden Soekarno berkali-kali menghadapi percobaan pembunuhan. Mulai dari digranat di Cikini, mau ditembak saat Salat Idul Adha hingga diserang di Makassar.

Namun serangan yang paling mengejutkan adalah peristiwa Maukar. Seorang pilot Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) pernah menerbangkan pesawat tempur Mig-17 dan mengebom Istana Presiden Soekarno.

9 Maret 1960. Tepat siang bolong Istana presiden dihentakkan oleh ledakan yang berasal dari tembakan kanon 23 mm pesawat Mig-17 yang dipiloti Daniel 'Tiger' Maukar. Maukar adalah Letnan AU yang telah dipengaruhi pemberontak Permesta. Nama 'Tiger' adalah call sign atau panggilan. Setiap penerbang tempur pasti punya nama panggilan.

Kanon yang dijatuhkan Daniel Maukar menghantam pilar dan salah satunya jatuh tak jauh dari meja kerja Soekarno. Untunglah Soekarno tak ada di situ. Soekarno tengah memimpin rapat di gedung sebelah Istana Presiden.

"Sebuah pesawat udara yang terbang rendah menjatuhkan bingkisan mautnya tepat di kursi biasa aku duduk. Rupanya Tuhan tengah menggerakan tangan-Nya untuk melindungiku," kenang Soekarno soal peristiwa itu dalam buku biografinya yang ditulis Cindy Adams. 

Setelah menjalankan aksinya Maukar mendaratkan jet tempur itu di persawahan wilayah Garut. Rencananya dia akan dijemput oleh para pejuang Darul Islam pimpinan Kartosoewiryo. Namun Maukar keburu tertangkap pasukan TNI. Berakhirlah petualangan salah satu pilot muda jagoan AURI itu.

Maukar membantah mencoba membunuh Soekarno. Aksinya hanya sekadar peringatan. Sebelum menembak Istana Presiden, dia sudah memastikan tak melihat bendera kuning dikibarkan di Istana sebagai tanda presiden ada di Istana. Dia tahu Istana sedang kosong. Maukar sendiri mengaku sangat mengagumi Soekarno. Aksi itu dilakukan karena kekecewaan dan hasutan para pejuang Minahasa yang kala itu merasa diperlakukan tak adil.

Maukar dijatuhi hukuman mati dan dipecat dari AURI. Tapi belakangan Soekarno mengampuninya. Dia menjalani hukuman selama delapan tahun sebelum bebas dan akhirnya menghabiskan hidup sebagai pendeta.

Merdeka.com 

Wednesday, October 21, 2015

Kalau Soekarno Masih Hidup, Tak Akan Ada Freeport Di Papua

Presiden John F Kennedy dan Soekarno

Antara Presiden Jhon F Kennedy, Soekarno dan Freeport

Presiden John F Kennedy tewas ditembak pada 22 November 1963. Kematian Kennedy masih menjadi misteri hingga saat ini. Dia adalah sahabat dekat Presiden Soekarno. Kematian Kennedy langsung mengubah peta politik dunia.

"Kennedy berpikiran progresif. Ketika aku membicarakan masalah bantuan kami, dia mengerti. Dia setuju. Seandainya Presiden Kennedy masih hidup tentu kedua negara tak akan berseberangan sejauh ini," kata Soekarno menyesali tragedi ini dalam biografinya yang ditulis Cindy Adams.

Sebagian pihak menilai pembunuhan Kennedy penuh nuansa politis. Apa hubungan Kennedy dengan penggalian emas PT Freeport?

Lisa Pease membeberkan hal itu dalam artikel berjudul 'JFK, Indonesia, CIA, and Freeport' di majalah Probe tahun 1996. Tulisan ini juga disimpan dalam National Archive di Washington DC.

Freeport ternyata sudah lama mengincar Papua. Tahun 1959, perusahaan Freeport Sulphur nyaris bangkrut karena tambang mereka di Kuba dinasionalisasi oleh Fidel Castro. Dalam artikel itu disebut berkali-kali CEO Freeport Sulphur merencanakan upaya pembunuhan terhadap Castro, namun berkali-kali pula menemui kegagalan.

Di tengah kondisi perusahaan yang terancam hancur itu pada Agustus 1959, Forbes Wilson yang menjabat sebagai Direktur Freeport Sulphur menemui Direktur Pelaksana East Borneo Company, Jan van Gruisen.

Gruisen bercerita dirinya menemukan laporan penelitian di Gunung Ersberg (Gunung Tembaga) di Irian Barat yang ditulis Jean Jaques Dozy di tahun 1936. Disebutkan tembaga di gunung ini tak perlu susah-susah digali. Ibarat kata tinggal meraup, karena tembaga berada di atas tanah.

Wilson tertarik dan mulai mengadakan survei ke Papua. Dia setengah gila kegirangan karena menemukan gunung itu tak hanya berisi tembaga tapi emas! Ya, dia menemukan gunung emas di Papua.

Tahun 1960, suasana di Papua tegang. Soekarno berusaha merebut Papua dari Belanda lewat operasi militer yang diberi nama Trikora. Freeport yang mau menjalin kerjasama dengan Belanda lewat East Borneo Company pun belingsatan. Kalau Papua jatuh ke Indonesia bisa runyam urusannya. Mereka jelas tak mau kehilangan gunung emas itu.

Wilson disebutkan berusaha meminta bantuan John F Kennedy. Tapi si Presiden AS itu malah kelihatan mendukung Soekarno. John pula yang mengirimkan adiknya Bob Kennedy untuk menekan pemerintah Belanda agar tak mempertahankan Papua. JFK juga yang mengancam Belanda akan menghentikan bantuan Marshall Plan jika ngotot mempertahankan Irian Barat. Belanda yang saat itu memerlukan bantuan dana segar untuk membangun kembali negerinya dari puing-puing kehancuran akibat Perang Dunia II, terpaksa menurut.

Agaknya Belanda pun tak tahu ada gunung emas di Papua sehingga mereka menurut saja disuruh mundur oleh AS.

Kontrak Freeport pun buyar. Apalagi Soekarno selalu menolak perusahaan asing menancapkan kaki mereka di Papua. Pada perusahaan minyak asing yang sudah kadung beroperasi di Riau, Soekarno meminta jatah 60 persen untuk rakyat Indonesia.

Kekesalan mereka bertambah, Kennedy akan menyiapkan paket bantuan ekonomi kepada Indonesia sebesar 11 juta AS dengan melibatkan IMF dan Bank Dunia. 

Sebutir peluru menghentikan langkah Kennedy. Kebijakan pengganti Kennedy langsung bertolak belakang. Indonesia pun makin jauh dari AS dan semakin mesra dengan Blok Timur yang berbau komunis.

Tragedi September 1965 menghancurkan Soekarno. Dia yang keras menolak modal asing, digantikan Soeharto. 

Setelah dilantik, Soeharto segera meneken pengesahan Undang-undang Penanaman Modal Asing pada 1967. Freepot menjadi perusahaan asing pertama yang kontraknya ditandatangani Soeharto.

Ironisnya, pemerintah Indonesia hanya dapat jatah 1 persen. Kontras sekali dengan apa yang diperjuangkan Soekarno.

Kalau JFK dan Soekarno masih ada, tak akan ada Freeport di Papua.

Merdeka.com 

Menunggu Abad Kejayaan Militer Indonesia

Menunggu Abad Kejayaan Militer Indonesia1

Abad Kejayaan Kerinduan adalah suatu gambaran di mana masa atau kejadian yang yang pernah kita alami serta atas dorongan yang teramat kuat ingin sesegera mungkin untuk mengulangnya kembali.
Dewasa ini muncul kembali beberapa pertanyaan dari putra-putri bangsa yang sangat merasa dahaga akan masa-masa kejayaan Republik Indonesia khususnya dalam hal kekuatan dunia militer. Kekuatan militer? Apakah hidup bangsa ini hanya untuk kekuatan militer?
Rasa aman atau merdeka adalah perasaan dimana kita secara leluasa bisa berkarya tanpa adanya tekanan dari pihak-pihak yang mempunyai kepentingan atas golongan atau negara tertentu, tentunya jika rasa aman dan merdeka itu sudah tercipta maka untuk memulai segala sesuatunya akan terasa lebih mudah baik itu negoisasi, ekonomi, kedaulatan maupun kedamaian.
Konsentrasi dalam hal kekuatan militer baiknya tidak dikategorikan dalam ruang lingkup yang sempit dan bukan serta-merta karena kita cinta perang, justru itu adalah hal yang sebaliknya jika kita cinta damai maka kita harus siap secara militer guna menangkis keinginan negara lain untuk memerangi kita, kira-kira begitu.
Kita pernah berada pada masa-masa kejayaan tepatnya pada tahun 60an melalui sentuhan sang negoisator ulung presiden Soekarno, dimana kala itu kita telah menganut peperangan modern pada saat itu yaitu dengan menitik beratkan untuk memperkuat armada udara dan laut.
Bukan pesan kosong alutsista yang kita punya pada saat itu bayangkan saja dari sekian negara didunia kita adalah negara ketiga yang mempunyai pesawat bomber jarak jauh dengan jumlah yang tak tanggung-tanggung sekitar 1 skuadron bomber dan dikawal oleh jet-jet tempur sub sonic yang tak kalah gahar dengan jumlah yang tak sedikit pula hampir 10 skuadron lengkap beserta persenjataannya, bahkan tidak cukup dengan itu armada laut kita dibekali dengan monster super bongsor KRI Irian siap gempur (hanya dua di dunia), 12 kapal selam whiskey siap tempur dan juga kapal cepat rudal yang dapat mengotong rudal-rudal yang sudah sangat mumpuni pada saat itu, dan meski angakatan darat merasa iri kita tidak melupakan juga untuk memberi mainan kecil berupa roket-roket dan rudal2 berdaya hancur tinggi dengan daya jangkau jauh pula, jika sudah begini apakah masih ingin main2 dengan kami? Masih ingin negoisasi ekonomi yang berat sebelah dengan kami? Dan apakah masih punya sedikit pikiran usil untuk coba-coba masuk melintasi meski hanya halaman kami?
Menunggu Abad Kejayaan Militer Indonesia2
Izinkan saya untuk menghela nafas. Lain dulu lain pula sekarang dimana saat ini begitu sering kita baca dimedia bahwa pesawat asing melintas dengan santai tanpa sadar yang mereka lewati adalah sebuah negara besar yang tidak mungkin luput dari mata begitu memandang peta dunia, dimana saat ini negoisasi-negosiasi bidang ekonomi maupun tapal batas NKRI kerap kali menuai hasil yang jauh dari keinginan kita, dimana saat ini warga kita sering dilecehkan dinegeri orang serta banyak berita lainnya yang isinya begitu memerkosa kami. Apa salah kami? Satu kesalahan kita, garuda kita tidak memiliki paruh yang tajam untuk melindungi dirinya sendiri.
Burung garuda bisa bertahan hingga 70th lamanya namun harus melalui seleksi alam dahulu untuk menempunya, sang gatuda ketika umur 40th paruhnya akan memanjang dan hampir melingkar itu akan mempersulitnya untuk makan, ditumbuhi bulu-bulu tua yang begitu memberatkan untuk terbang dan juga cakarnya pun tidak setajam dulu karena sudah mulai melingkar, sang garuda tua harus melewati masa2 sakit dengan membenturkan paruhnya pada batu untuk kembali tajam, garuda hatus mencabuti bulu-bulu tuanya satu demi satu agar dapat tergantikan oleh bulu baru, serta garuda harus menahan sakit dengan mematuk cakarnya agar kembali tajam, jika sang garuda berhasil melewati itu semua maka suatu keperkasaan akan kembali menghampirinya.
Abad Kejayaan sampai jumpa kembali, semoga saya masih ada umur untuk melihat garuda yang kembali muda setelah melewati fase-fase menyakitkan bermetamorfosa untuk kembali muda, Amin.
Baca jug: Satgas anti bajak laut gagalkan perompak di tanjong dato Kepri.
Boldun
Jakartagreater.com

Rahasia Soekarno Menaklukkan Wanita Cantik

Soekarno dan Marilyn

Soekarno Penakluk Wanita

Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, dikenal sebagai penakluk wanita. Menikah sembilan kali, dengan mudah wanita takluk padanya. Sebenarnya apa rahasia Soekarno? Mengapa wanita selalu terpikat padanya?

Mantan Ajudan Soekarno, Bambang Widjanarko menceritakan Soekarno memang jagoan soal wanita. Kharisma Soekarno ditambah intelektualitas yang tinggi, membuat wanita-wanita bertekuk lutut.

"BK (Bung Karno) benar-benar dapat disebut jagoan. Terhadap setiap wanita yang sedang dihadapinya, dia selalu dapat mencurahkan perhatiannya kepada wanita itu. Sehingga wanita tersebut merasa bahwa dia satu-satunya wanita yang paling dicintai atau dihargai BK," tulis Bambang Widjanarko dalam buku 'Sewindu Dekat Bung Karno' yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia.

Selain itu, Soekarno juga selalu bersikap gallant atau sopan dan hangat pada setiap wanita. Tak peduli wanita itu tua atau muda. Soekarno tak segan-segan mengambilkan minum sendiri untuk tamu wanitanya.

Soekarno juga selalu membantu memegang tangan wanita, jika wanita itu keluar mobil. Dia juga mengumbar pujian pada wanita. Hal ini yang selalu membuat para wanita tersanjung.

Pujian seperti "Alangkah serasinya kain kebaya yang anda pakai," atau "Nyonya kelihatan lebih muda dengan tatanan rambut baru itu," sering terdengar dari mulut Soekarno.

Maka dalam berbagai kunjungan di Eropa dan Amerika, Soekarno sering sekali mendapat pujian dari para wanita. Mulai dari politikus wanita, hingga artis sekelas Marilyn Monroe.

"Your President is real gentleman," ujar Bambang menirukan pujian para wanita itu.

Namun Bambang mencatat, akibat lagak seperti Arjuna itu pula Soekarno sering mendapat masalah dengan wanita. Tentunya tidak mudah mempunyai empat istri sekaligus dan semuanya minta menjadi nomor satu.

"Itulah BK sang arjuna yang dalam hidupnya terus terlibat persoalan wanita dan secara berani menerapkan politik 'vivere pericolozo' dalam soal asmara," kenang Bambang Widjanarko.


Baca selanjutnya: Soekarno di suguhkan tarian striptease oleh AS.

Merdeka.com 

Alasan Soekarno Dikuburkan Di blitar Oleh Suharto




Pemakaman Soekarno


Presiden pertama RI Soekarno dimakamkan di Blitar. Lokasi pemakaman di Blitar ini merupakan keputusan pemerintah Orde Baru di bawah Presiden Soeharto. Padahal, sewaktu hidup, Bung Karno pernah mengatakan ingin dimakamkan di daerah Priangan alias Jawa Barat.

Dalam 'Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia' yang ditulis Cindy Adams tahun 1965, Bung Karno mengatakan tidak ingin dikubur dalam kemewahan.

Wasiat pemakaman Soekarno

"Saya ingin sekali beristirahat di bawah pohon yang rindang, dikelilingi pemandangan yang indah, di sebelah sungai dengan air yang bening. Saya ingin berbaring di antara perbukitan dan ketenangan. Hanya keindahan dari negara yang saya cintai dan kesederhanaan sebagaimana saya hadir. Saya berharap rumah terakhir saya dingin, pegunungan, daerah Priangan yang subur di mana saya bertemu pertama kali dengan petani Marhaen," kata Bung Karno .

Belakangan, Bung Karno mengungkapkan tempat yang memenuhi kriteria itu adalah sebuah tempat dekat vila miliknya di Batu Tulis, Bogor. Vila itu dibangun Bung Karno di akhir masa jabatan kepresidennya.

Wasiat Soekarno Di tolak Dan Alasan Suharto

Namun, wasiat itu tidak diindahkan oleh Soeharto, yang memutuskan memakamkan sang proklamator dengan acara kenegaraan. Pemimpin Orde Baru itu memilih Blitar.

Soeharto beralasan keinginan keluarga Bung Karno perihal lokasi pemakaman berbeda-beda. "Andaikata kita serahkan kepada keluarga besar yang ditinggalkannya, maka saya melihatnya bakal repot," ujar Soeharto dalam ' Soeharto : Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya' (Dwipayana dan Ramadhan, 1989).

Maka, kata Soeharto, "Saya memutuskan dengan satu pegangan yang saya jadikan titik tolak, yakni bahwa Bung Karno sewaktu hidupnya sangat mencintai ibunya. Beliau sangat menghormatinya. Kalau beliau akan berpergian ke tempat jauh, ke mana pun, beliau sungkem dahulu, meminta doa restu kepada ibunya. Setelah itu barulah beliau berangkat."

Atas dasar kedekatan dengan ibu itu, Soeharto akhirnya memakamkan Bung Karno di Blitar, tak sesuai dengan wasiatnya. Soeharto juga memugar makam Bung Karno , hal yang tidak sesuai dengan kesederhanaan yang diinginkan pemimpin revolusi itu.

Sejumlah sejarawan berpendapat, keputusan sepihak Soeharto soal pemakaman itu karena dia merasa terlalu berbahaya jika makam Bung Karno terlalu dekat dengan Jakarta. Stabilitas pusat negara akan terganggu. Rupanya Orde Baru masih takut dengan kharisma pemimpin besar revolusi ini, bahkan setelah dia mati.

Meski dimakamkan di Blitar, tempat peristirahatan terakhir Bung Karno itu masih didatangi banyak orang hingga kini. Karena selama Orde Baru seolah dilarang, maka akhirnya banyak yang menyangka kalau Soekarno lahir di Blitar bukan Surabaya.

Hari ini 6 Juni, tepat hari lahir Soekarno. Banyak kisah menarik, heroik dan lucu dari Sang Proklamator. Selamat membaca tematik merdeka.com tentang sosok Bapak Bangsa ini.


Baca selanjutnya: Soekarno di suguhkan tarian striptease oleh AS.

Merdeka.com 

Kisah Soekarno Di Suguhkan Tarian Striptease Oleh AS

Soekarno Di Suguhkan Striptease

Tahun 1955 Presiden Soekarno mengadakan kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat. Saat itu sambutan dari Presiden Dwight Eisenhower kurang hangat. Eisenhower yang pensiunan jenderal perang dunia II, memandang sebelah mata pada Soekarno.

Eisenhower membiarkan Soekarno menunggu berjam-jam. Ini membuat Soekarno marah pada Amerika karena merasa tak dihargai. Di depan Kongres AS, Soekarno menyampaikan kemarahannya.

"Indonesia menolak diperlakukan seperti seekor burung kenari dalam sangkar emas dan diberi makanan yang enak-enak. Indonesia ingin diperlakukan sebagai burung garuda yang berada di atas batu cadas, tetapi bebas berjuang mencari makanannya sendiri. Jangan membanjiri dolar anda ke Indonesia dengan ikatan, karena pasti ditolak," tegas Soekarno di depan Kongres.

Nah untuk membujuk Soekarno, pemerintah AS mencoba segala cara. Ketika mendengar KBRI di Washington akan menggelar malam kesenian, AS ingin ikut menghibur Presiden Soekarno. Mereka bertanya pada KBRI, hiburan apa yang disukai Presiden Soekarno. Ada yang menyeletuk Soekarno senang lihat wanita telanjang. Rupanya hal ini dianggap serius oleh Amerika.

Awalnya acara malam kesenian di KBRI Washington berjalan dengan hangat. Tapi muka Soekarno berubah merah saat seorang gadis yang diutus pemerintah AS mulai menari. Ternyata gadis seksi berambut pirang itu membawakan tarian telanjang. Padahal di sana banyak anak-anak.

"Ketika memasuki acara tarian yang disumbangkan oleh pihak Amerika, spontan beliau marah karena tari yang disuguhkan oleh pihak Amerika itu adalah tari telanjang yang dipentaskan seorang wanita Amerika," kata Panglima Mobile Brigade Komisaris M Jasin. Jasin ketika itu sedang mengikuti pelatihan Rangers di AS demikian ditulis dalam buku Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama.

Soekarno pun sibuk menutup mata anak-anak yang berada di sana. Dia merasa hal ini sama sekali tak pantas.

Dengan marah Soekarno memerintahkan atase kebudayaan KBRI segera kembali ke Indonesia. Soekarno menganggap ini penghinaan luar biasa pada Republik Indonesia.

Tentu saja Soekarno jadi bulan-bulanan pers barat. Foto-foto Soekarno sedang menonton striptease tersebar luas. Sang Presiden pun makin tak suka pada AS dan neoimperialisme.
Merdeka.com 

Wednesday, October 14, 2015

Soekarno Menangis di Pusara Jendral A.Yani

Soekarno Menangis di Pusara Jendral A.Yani
Hanya sekali ini Soekarno memperlihatkan kesedihannya yang begitu mendalam di depan publik

Soekarno Menangis

30 September baru saja lewat, namun kejadian paling kelam dalam sejarah bangsa ini masih terus diingat sepanjang masa. Berkaitan dengan hal tersebut, ada nama Jenderal A. Yani sebagai korban pembunuhan biadab tersebut. Soekarno sendiri seperti dipukul dengan telak saat mengetahui kejadian nahas tersebut. Ia pun menangis sejadi-jadinya ketika berada di kubur sang Jenderal ketika tak lama dimakamkan.  

Sebenarnya ada hal perlu diketahui dari hubungan Soekarno dan A. Yani, sehingga kita bisa mengerti kenapa sang presiden begitu kehilangan sejak kematian sang Jendral. Percaya atau tidak, A. Yani sedianya akan jadi presiden kedua kita. Secara tersirat Bung Karno menegaskan hal tersebut dalam sebuah pernyataan. “Yani, kalau kesehatan saya belum membaik kamu yang jadi presiden.” 

Ketika mengatakan hal tersebut, ada banyak orang yang mengetahuinya. Mulai Sharwo Edhie, AH Nasution, Soebandrio dan Chaerul Saleh. Pernyataan tentang rencana pengangkatan A.Yani sebagai presiden juga turut diketahui oleh istri serta anak-anak sang Jenderal. Sayangnya, cita-cita mulia sang jendral tak pernah kesampaian ketika ia nyatanya malah dibunuh dengan keji pada peristiwa G30S. 

Ada yang mencurigai jika hal ini disengaja karena A. Yani terkenal sama vokalnya seperti Soekarno. Akhirnya untuk kepentingan segelintir orang dan juga katanya ada intervensi asing, hal tersebut pun dilakukan. Kehilangan pengganti terbaiknya tak pelak membuat Soekarno sangat kecewa. Ia tahu jika belum ada pengganti yang bisa meneruskan amanahnya menjaga bangsa ini. 

Sedangkan dirinya sudah mulai sakit-sakitan. Jika saja A. Yani benar-benar naik, mungkin saja era keemasan Indonesia seperti zaman Bung Karno akan bisa diperpanjang lagi. Kalau seperti ini, bukan hanya beliau saja yang harusnya menangis, kita sebagai rakyat juga miris melihat kenyataan seperti ini. Sebagai orang paling berpengaruh untuk Indonesia, menunjukkan tangis akan sangat menurunkan wibawanya. 

Namun sejatinya Soekarno tetaplah seorang manusia biasa. Dihadapkan dengan berbagai konflik batin yang pahit seperti itu, ia pun menangis sejadi-jadinya. Jangankan Soekarno, kita yang membacanya sendiri mungkin sangat terenyuh melihat fakta pergolakan batin sang Bapak Bangsa. Seperti kata ungkapan populer, selalu ada sebab kenapa seorang pria menangis. Namun yang pasti itu adalah karena hal-hal yang sangat berat. 

(Baca Juga " Dokumentasi Bung Karno Saat di Hormati Dunia Bak Raja ")

Militer Indonesia


Dokumentasi Bung Karno Saat di Hormati Dunia Bak Raja

Coba Anda saksikan video berdurasi kurang dari 4 menit ini dengan pikiran yang jernih. Coba perhatikan seperti apa pesona presiden kita yang telah tiada sejak lama itu, yang di kenal di dunia sebagai sang PROKLAMATOR. 
Mari simak Video di bawah Ini...




Dari video di atas, Anda akan merasakan betapa Bung Karno adalah sosok yang berpengaruh dan disegani. Sosok yang kuat dan mampu menggerakkan banyak sekali orang. Di Amerika saja ia begitu dielu-elukan. Di Rusia ia disambut bak raja. Jadi tak berlebihan jika kita juga melakukan hal yang sama. 

Komando Pasukan Katak Akan menambah Jumlah Satuan Komando

Komando Pasukan Katak Akan menambah Personil
KOMANDO PASUKAN KATAK (KOPASKA)

SURABAYA - Jumlah Satuan Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI AL bakal ditambah, dari dua menjadi tiga satuan. 

Penambahan ini mengikuti rencana pengembangan jumlah Armada Kawasan RI, dari dua menjadi tiga armada. Rencana penambahan Satuan Kopaska disampaikan Komandan Satkopaska Koarmatim Kolonel Laut (E) Yudhi Bramantyo seusai menyematkan brevet Manusia Katak pada mantan siswa pendidikan brevet Kopaska, saat penutupan pendidikan brevet Kopaska Angkatan XXXVIII, di Lapangan Laut Maluku, Komando Pengembangan Pendidikan Angkatan Laut (Kobangdikal), Bumimoro, Surabaya, kemarin. 

“Kopaska yang semula dua satuan, akan ditambah menjadi tiga satuan, sesuai keberadaan armada yang akan dikembangkan menjadi tiga,” kata Yudhi Bramantyo, kemarin. Menurut dia, tiap armada, baik barat, timur, dan pusat, akan memiliki masing-masing Satkopaska. Tiap Armada ada satu satuan. Kopaska diperlukan negara seperti Indonesia yang merupakan negara kepulauan.

(Baca Juga " Operasi penyelamatan rahasia bung Karno Oleh marinir")

Komando Pasukan Katak Akan menambah Personil
KOMANDO PASUKAN KATAK (KOPASKA)
Penambahan Satuan Kopaska ini terus dimatangkan seiring pengembangan armada yang terangkum dalam Armada Nusantara. Komandan Kobangdikal Laksamana Muda TNI I N G N Ary Atmaja mengatakan, Kopaska merupakan pasukan yang direkrut secara khusus dan dididik, dilatih secara khusus. 

Dimana, prajurit Kopaska menggunakan peralatan khusus untuk melaksanakan tugas- tugas yang tidak bisa dilaksanakan pasukan reguler, khususnya dalam melaksanakan peperangan laut khusus, Naval Special Warfare . Pendidikan Kopaska, kata Ary, mempunyai tujuan dan sasaran, yaitu membentuk prajurit berkualifikasi Komando Pasukan Katak yang memiliki kecakapan dan kemampuan untuk melaksanakan tugas beraspek empat media, yakni media darat, udara, permukaan laut dan bawah laut. 

Diketahui, pada penyematan brevet kemarin ditampilkan sejumlah demonstrasi, di antaranya pembebasan sandera dari kelompok teroris. Dengan kesigapan dan keahliannya, Pasukan Katak berhasil melumpuhkan kelompok teroris tersebut.


 (Koran-Sindo.com)

Saturday, October 10, 2015

[Video] Kudeta Soekarno dan Kebohongan Sejarah


[Video] Kudeta Soekarno dan Kebohongan Sejarah

Presiden RI Pertama SOEKARNO

Kudeta Soekarno dan Kebohongan Sejarah #1


Kudeta Soekarno dan Kebohongan Sejarah #2


Kudeta Soekarno dan Kebohongan Sejarah #3


Kudeta Soekarno dan Kebohongan Sejarah #4


Kudeta Soekarno dan Kebohongan Sejarah #5


MiliterIndonesia & youtube

Monday, October 5, 2015

Operasi Penyelamatan Rahasia Bung Karno Oleh Korps Intai Para Amfibi "KIPAM"


“Harto, jane aku iki arep kok apa’ke? Aku iki presidenmu” Ungkap Soekarno pada Soeharto di suatu waktu dalam bahasa Jawa. Kurang lebih artinya, ‘Harto, sebenarnya aku ini akan kamu apakan? Aku ini presidenmu’.

Sedikitnya itu pengungkapan Soekarno pada Soeharto yang termaktub di autobiografi Soeharto, pasca-penjelasannya soal peristiwa G30S (Gerakan 30 September) 1965 di mana sejumlah perwira tinggi TNI AD gugur ditolak parlemen, sekaligus pasca-keluarnya Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) 1966.

Masa-masa akhir Soekarno setelah dua peristiwa itu begitu miris. Sang proklamator, sang penyambung lidah rakyat, Putra Sang Fajar yang mulai meredup, di mana Soekarno sejak Mei 1967 tak lagi diizinkan memakai gelar Kepala Negara atau status Presiden.

Di kala itu, Soekarno juga tengah intensif jadi obyek interogasi petugas Teperpu dan sudah “terasing” di Wisma Yaso (kini Museum Satria Mandala, Jakarta). Mendengar Bung Karno bertanya dengan miris seperti itu, segera Soeharto menurunkan perintah untuk tak lagi menginterogasi Soekarno.

Di masa pengasingannya itu pun, Soekarno tak diperbolehkan dijenguk siapapun. Hanya ada salah satu putrinya, Rahmawati dan dokter Kepresidenan Prof. Dr. Mahar Mardjono di Wisma Yaso yang juga mulai suram, mulai berantakan halamannya lantaran tukang kebun pun dilarang lagi untuk datang.

Operasi Rahasia Penyelamatan Bung Karno

Ketika itu, Soekarno bisa dikatakan berstatus tahanan rumah yang ditempatkan di Wisma Yaso (kini Museum Satria Mandala, Jakarta, bangunan ini ada di dalam area museum ini). Semua orang tahu, Soekarno ditahan, tetapi tidak banyak yang tahu nyawa proklamator tersebut diujung tanduk.



Siapa lagi loyalis militer Bung karno kalau bukan KKO ALRI yang hendak menculik & menyelamatkan proklamator tersebut dari rumah tahanan Wisma Yaso.

Dikisahkan suatu malam, satu tim Korps Intai Para Amfibi (Kipam) ALRI berhasil menyusup ke dalam Wisma Yaso. Batalyon Intai Amfibiatau disingkat YonTaifib adalah satuan elit dalam Korps Marinir seperti halnya Kopassus dalam jajaran TNI Angkatan Darat.

Dahulunya satuan ini dikenal dengan nama KIPAM (Komando Intai Para Amfibi). Untuk menjadi anggota YonTaifib, calon diseleksi dari prajurit marinir yang memenuhi persyaratan mental, fisik, kesehatan, dan telah berdinas aktif minimal dua tahun.

Salah satu program latihan bagi siswa pendidikan intai amfibi, adalah berenang dalam kondisi tangan dan kaki terikat, sejauh 3 km.

Dari satuan ini kemudian direkrut lagi prajurit terbaik untuk masuk kedalam Detasemen Jala Mengkara, pasukan elitnya TNI Angkatan Laut. Pada masa kini, Kipam sekarang dikenal dengan nama Taifib ( Intai Amfibi).


Kala itu, Kipam ALRI bisa melewati penjagaan ketat oleh Kostrad dan RPKAD, hingga masuk ke ruang di mana Soekarno terbaring tidak berdaya.

Seorang perwira pertama Kipam membangunkan sang Proklamator, kemudian mengajak bercakap sejenak sambil mengutarakan rencana mereka untuk membawa Soekarno keluar dari Wisma Yaso.

Tetapi rencana tidak berjalan mulus, Soekarno menolak untuk diselamatkan. Soekarno malah memerintahkan si perwira pertama untuk membawa timnya keluar dari Wisma Yaso. Tidak banyak kata yang terucap, Soekarno tidak mau lagi diajak berbicara. Alhasil, Kipam pulang dengan tangan hampa.

Operasi penyelamatan secara rahasia terhadap sang proklamator tersebut pun tidak banyak diketahui orang, kecuali hanya pada kalangan tertentu di ALRI dan KKO.

Padahal, jika saja mau, ALRI bisa jadi yang paling terdepan bersama Soekarno. Belum lagi ditambahkan dengan elemen-elemen nasional lainnya yang masih loyal dengan Bung Karno.

Soeharto dan Soekarno


Sebelum Sukarno Terbaring di Wisma Yaso

Sebelum di Wisma Yaso, Soekarno sudah mulai terasing di Istana Bogor sejak menandatangani Supersemar 1966. Dalam kenangan salah satu wartawan istana dari Harian Pelopor Baru, Toeti Kakialatu dalam buku ’34 Wartawan Istana Bicara Tentang Pak Harto’, dijelaskan saat itu wartawan sudah tak boleh lagi bertemu Soekarno.

“Pintu Istana Merdeka dan Istana Bogor tertutup bagi semua wartawan. Sementara itu demonstrasi gencar terjadi menuntutTritura (Tiga Tuntutan Rakyat: Bubarkan PKI, Bubarkan Kabinet Dwikora dan Turunkan harga-harga makanan),” tulis Toeti.

“Beliau juga tak diperbolehkan berdiam di Istana Bogor, melainkan di kediaman pribadi di Jalan Batu Tulis, Bogor yang diberi nama ‘Hing Puri Bima Sakti’. Beliau nampak kesepian. Hanya beberapa petugas Teperpu yang selalu ingin mengorek keterlibatan Bung Karno atas peristiwa kudeta 1965,” tambahnya.

Lantaran terus-menerus diinterogasi dan tanpa teman berarti di sisinya, kesehatan Bung Karno pun menurun. Rahmawati kemudian menulis surat untuk Soeharto agar Bung Karno dipindah lagi ke Jakarta. Itulah akhirnya Bung Karno mendiami Wisma Yaso hingga akhir hayatnya.

Nasoetion, Soekarno dan Soeharto
Sebelum munculnya Supersemar

Padahal sebelum munculnya Supersemar yang mengharuskan Soekarno menyerahkan mandat pada Soeharto, setidaknya Soekarno masih bisa menikmati hari-hari luang. Pasca-Soeharto jadi Pejabat Presiden, Toeti mengaku bersama beberapa rekan wartawan lainnya masih sempat ‘ngemong’ Bung Karno.

“Kami keliling kota dengan bus mini ke beberapa toko anti, ke Stadion Senayan, melihat dari jauh pembagunan Gedung MPR/DPR. Saat itu juga Bung Karno sangat ingin makan sate di Priok. Tapi tak diizinkan bagian keamanan,” imbuh Toeti.

“Acara lain adalah nonton film di studio kecil yang waktu itu letaknya di bagian belakang Istana Negara. Biasanya kami nonton film Jepang. Bung Karno senang sekali nonton ‘Zato Ichi’, cerita tentang samurai pemberani bermata satu,” lanjutnya mengenang Bung Karno.

Soekarno Sungkem Kepada Ibundanya


Dalam kenangannya, Soekarno memang dikenal sosok yang teguh memegang prinsip yang dipercayainya, kendati rakyat sudah tak lagi menghendaki. Seperti konsep Nasakom(Nasionalisme, Agama dan Komunisme) contohnya.

Peristiwa G30S tak ayal membuahkan gejolak besar dalam politik Indonesia. Soeharto sedianya sudah lebih dari 10 kali membujuk Soekarno untuk memenuhi Tritura yang di antaraya, membubarkan PKI. Tapi itu artinya menghapus pula konsep Nasakom yang dipegangnya selama rezim demokrasi terpimpin.

“Dudu sanak, dudu kadang. Nek mati melu kelangan,” begitu jawab Soekarno yang menyiratkan keengganan membubarkan PKI, di mana kira-kira artinya, bukan saudara bukan kawan, tapi kalau mati turut kehilangan.

Sayang, pilihannya yang tak menghendaki pemenuhan Tritura membuatnya harus jatuh dari segala tongkat komando yang pernah dikuasainya. Soekarno seolah harus menghadapi masa senjanya dengan kesendirian dan kondisi yang suram di Wisma Yaso.

Kondisi kesehatannya yang kian memburuk mengharuskan Soekarno dirawat di Rumah Sakit Gatot Subroto. Dunia internasional tak alpa pula mengikuti kondisi sosok yang pernah sangat diperhitungkan blok barat dan timur itu.

Soekarno Ketika Terbaring Sakit

“Berita tentang parahnya penyakit Bung Karno menjadi gosip santer. Juga beredarlah foto dari ‘Associated Press’ di media-media barat, Bung Karno tengah berbaring tak berdaya dengan wajah sembab, sedang dijaga putrinya, Rahmawati,” sambung Toeti lagi.

Tapi tak lama kemudian di Paviliun Darmawan RS Gatot Subroto, Soekarno yang lahir di Surabaya pada 6 Juni 1910 dan sejak kecil selalu ingin jadi penakluk, akhirnya ditaklukkan takdir. Maut menjemputnya pada 21 Juli 1970.

Sempat beredar soal isu keinginan Bung Karno sendiri yang ingin dimakamkan di Batu Tulis, Bogor.

Tapi dikatakan pihak keluarga juga saling berbeda pendapat soal di mana Soekarno akan dikebumikan. Namun Soeharto turut memutuskan bahwa Soekarno hendaknya dimakamkan dekat makam ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai di Blitar, Jawa Timur.

Sekalipun demikian, situasinya saat itu mungkin sulit dipahami, Soekarno lebih memilih bangsanya aman dan tenang. Mungkin bisa dikutip dari nasehat Soekarno kepada anaknya:

“Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekali pun, ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng, hanyalah kekuasaan rakyat dan di atas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.”

Para pemimpin di masa sekarang hendaknya mau bercermin dan mengambil keteladanan seorang Soekarno, sang proklamator. Sikap seperti Soekarno bisa jadi cermin dari sikap para orangtua di masa lalu, mengingat pada masa itu, walau seorang menteri pun, tak ada yang hidupnya kaya atau pun hidup bermewah-mewah.

Banyak diantaranya tak mau fasilitas rumah dari negara dan malah memilih untuk hidup di rumah kontrakan, makan seadanya, ada yang bermasalah dengan WC rumahnya yang mampet, bahkan ada yang tak mampu membeli kain kafan untuk anaknya yang meninggal. Padahal mereka adalah seorang Menteri Negara yang mengurusi seganap rakyatnya, rakyat Indonesia, dari Sabang hingga Merauke.

Sumber: viva.co.id